Wanita Tidak Wajib Meniti Karier Tapi Wajib Menuntut Ilmu

IMG-20160812-WA0046Wanita Tidak Wajib Meniti Karier Tapi Wajib Menuntut Ilmu

Bagi sebagian orang, menuntut ilmu diyakini hanya wajib bagi pria bukan wanita. Hingga tak sedikit mengutamakan karier daripada ilmu. Akibatnya wanita lebih piawai di bidang lain ketimbang agama. Padahal bila menengok sejarah wanita-wanita zaman dahulu, banyak di antara mereka menjadi guru bagi ulama-ulama besar sekelas Imam Ahmad, Imam ‘Asakir dan yang lainnya. Terkait tema ini, berikut ulasannya disertai kisah menakjubkan yang menarik untuk disimak.

Hadist yang menyebutkan, “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim”, oleh para ulama ditafsirkan termasuk juga wanita (muslimah). Dalam hal ini, menurut mereka, tidak ada bedanya. Sebab di lain hadist dalam riwayat Ahmad, wanita juga disebut sebagai syaqa’iq (saudara kandung) pria, selain juga berhak meraih keutamaan-utamaan berbagai amal sebagaimana pria.

Berbicara mengenai wanita, diakui mereka memiliki kelembutan dan ketekunan, di mana dengan kelembutan dan ketekunan tersebut bila digunakan dalam kebaikan, mampu membuat siapa saja bedecak kagum. Bahkan dalam bidang tertentu tidak jarang seorang wanita mampu melewati laki-laki, termasuk dalam mendalami ilmu.

Dalam kitab Mizanul I’tidal fi Naqdir Rijal, disebutkan oleh Imam Al-Hafidz Adzahabi rahimahullah, banyak perawi pendusta dari kalangan laki-laki, hingga para ulama menulis khusus tentang mereka, sementara dari kalangan wanita belum pernah dijumpai ada yang berdusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Para ulama, konon mereka juga menimba ilmu pada ulama perempuan sebagaimana mereka menututnya pada guru laki-laki . Orang-orang yang pernah menengok biografi ulama-ulama besar zaman dulu, seperti Imam Ahmad, ia memiliki 4 guru wanita. Demikian pula Imam Ibnu ‘Asakir dan Imam Sam’ani, disebutkan salah satu dari keduanya memiliki kurang lebih 100 guru wanita. Bayangkan, mereka menimba ilmu pada kurang lebih 100 ulama perempuan.

Dikisahkan, Imam Malik bin Anas ketika putrinya yang cantik dilamar anak seorang Amir (Gubernur), ia menolak lamaran tersebut, lebih memilih menikahkannya dengan pria menduda ditinggal mati istri yang merupakan muridnya.

Setelah menikah, seperti biasa, pria tersebut keluar menuju majlis Imam Malik yang kini jadi mertuanya.

Ketika hendak beranjak, istrinya berkata: “Hendak ke mana?”

Pria: Hendak menuntut ilmu di majlis ayahmu.

Istri: Duduklah, sesungguhnya ilmu ayah ada pada diriku, aku yang akan mengajarimu.

Amazing, adakah wanita serupa dirinya di zaman ini?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ ناراً وقودها النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عليها مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدادٌ لاَّ يَعْصُونَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Qs. At-Tahrim [66]:6).

Dari ayat ini, seorang ayah wajib mengajarkan keluarganya, baik itu istri, putra maupun putrinya. Juga wajib membentengi mereka dari api neraka dengan amal saleh, dan amal saleh tidak akan bisa diraih kecuali dengan ilmu. Selain ayah, ibu juga bertanggung jawab dan berperan besar terhadap baik buruknya keluarga, maka menuntut ilmu juga kewajiban yang tidak bisa dihindari.

Sebagai teladan, bisa ditengok istri para ulama, tak dijumpai di antara mereka kecuali juga memiliki ilmu yang luas, tidak sedikit bahkan mengarang kitab, seperti istri Imam Besar Ibnu katsir. Begitu pula istri-istri ulama belakangan.

Atas semua hujjah dan teladan di atas, maka wanita wajib menuntut ilmu agama, utamanya terkait hal-hal yang wajib bagi dirinya dalam sehari-hari. Miris melihat wanita hingga akhir hayat tidak mengetahui hukum prihal haid, di mana merupakan sesuatu yang wajib terjadi setiap bulan. Tentu merupakan musibah yang sangat besar bila hal ini terus terjadi dan menular pada putra-putrinya secara turun temurun.

Era ini, umumnya wanita tak banyak memiliki pengetahuan agama yang dalam, sementara orang-orang kafir tiada henti berusaha merusak mereka dengan berbagai cara dan sarana. Akibatnya lebih banyak yang terjebak oleh syahwat dan syubhat ketimbang yang selamat. Walhasil untuk mengatasinya, tidak ada pilihan kecuali lekas menimba ilmu. (Sumber bacaan: http://meshhoor.com/talabalalmnesa)

Jum’at 12 Agustus 2016

[Marwan AM, حفظه الله تعالى وغفر الله لوالديه]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*