Singgah di Pohon Maut

5NV85P_OUsai JJD ( jalan-jalan dakwah), saat balik dari arah Sembalun menuju Aikmel, Jumat (25/03), saya menyempatkan diri singgah di tempat kejadian yang merenggut nyawa istri Pak Camat dan membuat orang nomor 1 itu terkapar di rumah sakit sampai saat ini. Tampak bekas akar pohon besar yang menimpa mobilnya masih teronggok di tepi gunung yang bersatu dengan jalan.

Rasa penasaran yang membuat saya mau singgah, maka saat melintasinya, saya minta Ihsan warga Bumbung, Sembalun yang saat itu membonceng saya untuk berhenti, guna melihat lebih dekat tempat kejadian maut itu. Saat di lokasi, mendadak tubuh merinding, aroma angker menyeruak diriingi rasa dingin. “Ngeri juga di sekitar sini,” kata saya kepada Ihsan saat mendongak gunung yang menjulang di hadapan saya.

Seperti diketahui, Jumat (11/03) lalu, pkl 12.45 wita, di Jalan raya pusuk, tepatnya di Okok-okok Tebel, Bumbung, Sembalun, di mana saat Pak Utsman, kepala camat Sembalun melintasi jalan ini menggunakan mobil dinasnya, datang dari arah Aikmel menuju Sembalun, tanpa diduga, pohon besar jenis mendong mendadak tumbang menerjang mobilnya. Tak ayal, ia dan istri juga anaknya mengalami nasib yang tidak pernah diinginkan oleh setiap orang, istrinya bahkan tewas di TKP.

Melihat sepintas tempat tumbuhnya pohon yang ukurannya 5 kali lebih besar dari pohon kelapa itu, wajar jika ia ambruk begitu mudah. Sebab, tanah tempat menancapnya akar pohon tersebut terbilang tanah yang mudah tergerus, yaitu tanah berpasir. Apalagi letak pohon itu berada di tebing gunung ditambah batangnya yang besar. Maka sedikit saja digoyang angin, tanah berpasir itu akan teriak, tak kuat menahannya. Saya pun tidak mau berlama-lama di lokasi, takut pohon yang lain menyusul.

“Pohon tumbang yang menimpa Pak Camat adalah kejadian langka, bahkan mungkin itu yang ‘pertama’ setelah ratusan tahun,” ungkap Abu Fawaz, warga Bumbung saat kami ngobrol di rumahnya.

Pasca peristiwa yang merenggut nyawa itu tersiar, rasa takut membayangi sebagain orang saat mau ke Sembalun, terutama saat akan melintas di TKP,  pasalnya sepanjang  jalan  menuju Sembalun di kanan-kirinya dipenuhi pohon-pohon yang setiap saat bisa saja tumbang. Dan ternyata tidak sedikit  pohon-pohon sejenis dan besar dalam posisi berpontensi demikian.

Saya pun yang termasuk diselimuti rasa takut, sepanjang jalan, baik saat pergi maupun pulang dari Sembalun selalu mendongak kanan-kiri ke arah pohon-pohon itu. Khawatir sewaktu-waktu saat melintas ada pohon tumbang tanpa mukaddimah. Makanya, senang-senang gelisah rasanya selama dalam perjalanan. Senang karena dapat melihat keindahan alam pepohonan, gunung yang dibalut hijaunya dedaunan secara dekat, gelisah karena khawatir ditimpa mendong, hahai…

Pohon-pohon di pinggir jalan sepanjang menuju Sembalun itu memang tampak teduh, tapi kalau ‘diganggu’ sepertinya bakal ngamuk. Sekarang pohon-pohon tersebut mulai terusik dengan kehadiran ‘muda-mudi’ yang menjadikan pusuk panggung ‘hiburan’, yang entah dari mana asalnya, maka peristiwa itu dianggap sebagian orang sebagai peringatan. Dan untungnya tidak menerjang mereka yang sedang ‘dokter-dokteran’.

Setiap peristiwa pasti ada hikmahnya, baik sebagai pelajaran bagi yang mengalaminya maupun bagi orang lain. Dan mudah-mudahan peristiwa maut tersebut benar-benar menjadi peringatan, hingga orang-orang sadar, bahwa alam yang indah, pepohonan yang hijau, gunung yang memukau akan murka bila penciptanya dibuat marah. Dan untungnya, peringatan hanya melalui pohon  yang tumbang, bagaimana jika gunung yang meletus. Wal’iazubillah.

Semoga bermanfaat!

Kantor Mudir, Rabu, 30/03/2016

Marwan AM, Lc. حفظه الله تعالى

 

 

 

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*