Sekali Naik Perahu 4 Pulau Terjelajahi Menjadi Kenyataan dan Pelajaran Tauhid Dibaliknya

WhatsApp-Image-20160528.jpgzzz
Gili lampu yang indah, foto diambil dari tengah gili
“Ustadz, kabar gembira, kita (saya, antum, dan Ustadz. Sofwan) diundang ikut ke gili oleh Abu Adib cs, katanya kita akan mengunjungi empat gili sekaligus,” bisik Abu Suhail di kantor. “Benar, kapan?,” ucap saya girang. “Besok Jumat,”kata putra Phogading itu. Saya yang memang selalu mudah jatuh cinta pada alam yang indah, langsung menganggukan kepala. “Oke siap insyaAllah,” kata saya penuh semangat.
 
Esoknya, matahari menongolkan diri di ufuk timur memberi sinyal hari Jumat (27/5) telah dimulai, usai berkemas-kemas menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan, saya segera meluncur ke tempat pertemuan, yakni rumah Abu Adib, Labuhan Lombok.
 
Hati yang riang bahagia ini sudah tak sabar ingin pergi menjelajahi gili-gili yang indah di bagian timur Lombok itu, yakni gili Kondo, Kapal, Petangan, dan Bidara. Yang pertama kami kunjungi adalah Gili Kondo. Hanya sekitar 15 menit mengarungi lautan kami sudah sampai pada gili yang terletak di selat Alas yang memisahkan pulau Lombok dan Sumbawa tersebut.
 
Di gili ini kawan-kawan bermandi ria dan snorkling cukup lama sembari bakar-bakar ikan, saya sendiri tidak ikut berbasah-basah, saya ingin menyimpan energy untuk gili yang belum tersentuh oleh kaki saya. Gili Kondo pernah saya kunjungi sebelumnya, hingga tak begitu tertarik, juga karena terumbu karangnya kurang indah, hanya hamparan pasirnya yang putih dan lembut bagai bubuk yang ditabur ke lantai.
 
Usai sholat dan makan siang dengan menu ikan ekspor dan ayam bakar yang “dibrok”, kami lalu bersiap-siap menjelajahi tiga gili berikutnya. Mulanya nyaris rencana merapah tiga pulau tersebut tak kesampaian karena sesuatu dan lain hal. Namun saya keukeuh meminta ke Abu Adib harus menyambanginya, sebab bagi saya terutama, tak ada artinya piknik kali ini jika hanya di gili Kondo, gak ada yang bakal seru dan baru saya bawa pulang. Walhasil setelah berunding, didukung Haji Rijal, Irwan Bafin Zen Shaputra (hehe), Abu Adib yang memang baik (ciee) setuju.
 
Mengikuti rute yang diinginkan pemilik perahu, Gili Kapal tujuan pertama, saat mengarungi lautan menuju gili kecil yang kabarnya kerap membuat kapal tersandung hingga dinamakan gili kapal itu, saya melihat gradasi warna air laut semakin jauh semakin membiru tua yang menandakan kedalaman laut, perahu sesekali bergoyang dahsyat, lihat kiri kanan laut terhampar luas membiru, rasa takut sempat mendadak menyeruak, namun seketika tertepis melihat Abu Adib cs tersenyum happy dan tenang-tenang saja.
Pulau ini berada cukup jauh dari Kondo, juga sangat kecil hanya sebentuk gugusan berpasir putih, tak ada pohon apapun yang tumbuh, ia pun tampak bila air laut sedang surut. Tidak lama berlompat-lompat girang di sana dan karena ombak semakin keras, hal ini juga amat dirasakan Ustadz. Sofwan, katanya ia sempat merasa pusing, kami segera menuju gili di sebelahnya, Gili Petangan.
 
Dari Kapal, Petangan tidak begitu jauh. Dalam menuju gili ini biru tuanya air laut juga amat terasa yang menandakan kedalamannya. Namun begitu mendekat, air di sekitarnya amat jernih menampakkan pemandangan taman laut, di mana padang lamun di bawahnya melambai-lambai seakan menyambut kedatangan Marwan AM ehm…
 
Gili Petangan tidak seperti gili yang lain pada umumnya juga tidak berpantai, ia ibarat hutan dipenuhi bebagai jenis bakau yang akarnya tertanam di dasar laut. Kendati formasi tanaman-tanaman bakau itu benar-benar menggoda dan menyejukkan pandangan, kesan saat melintasi tengah pulau ini seakan sedang berada di hutan rawa, maka ngeri juga kalau membayangkan tiba-tiba ada ular anaconda dan atau buaya..hehe..
 
Saat perahu di tengah-tengah laut antara Gili Petagan dan Gili Bidara berhenti, kami disajikan pemandangan laut yang indah. Di sini saya mulai menceburkan diri snorkling menikmati terumbu karang yang tiada henti membuat saya mengatakan, “MasayaAllah amazing!”, takjub akan keindahannya.
 
Seketika itu juga kawan-kawan langsung terjun bebas dari perahu turut menikmati alam laut yang begitu memikat. Bahkan di sini, karena tak begitu dalam dan saking jernihnya, terumbu karangnya yang indah dapat dilihat dari perahu. Semua terumbu karang masih dalam kondisi prima nan manis, hebatnya ikan-ikan yang sangat banyak dan berwarna warni mengitarinya seolah-olah tidak menghiraukan saya, mungkin dianggap ikan juga hahaha…
 
“Ke sini Ustadz,” panggil Abu Adib. Ia ingin saya menyaksikan ikan-ikan yang menari-nari saat disodori nasi. Benar-benar mempesona.
 
Saya ingin berlama-lama bahkan hingga malam, namun kode dari Abu Adib untuk melanjutkan perjalan menuju Gili Bidara membuat saya harus naik ke perahu. Gili Bidara adalah gili terakhir yang kami kunjungi, saat kami semakin dekat, keindahannya begitu tampak dari atas perahu. Di sini juga kami mandi cukup lama, namun sayang terumbu karang gili ini mirip dengan Gili Kondo.
 
Karena tidak sempat mengelilinya, saya kurang tahu persis keindahan lain yang disimpan pulau yang kabarnya dijadikan ladang warga Lombok untuk menanam ketela dan hasilnya dapat menghidupkan puluhan orang ini. Yang saya lihat ada sebuah dermaga, namun kondisinya sudah tidak layak disebut dermaga, tapi dermangu….hehe..
 
Tidak terasa hampir seharian menjelajahi pulau-pulau indah di bagian timur Lombok ini, banyak kenangan yang kami dapat dan rasakan, di mana kenangan tersebut tidak akan Anda dapatkan di pom bensin atau warung bakso kecuali ke sana langsung haha…
 
Dengan bertemu muka dan menyaksikan langsung semua keindahan itu, keyakinan kami semakin kuat, bahwa alangkah naifnya orang-orang yang menyembah selain Allah, kenapa? Karena hanya Allah-lah yang mampu membuat keindahan itu sedemikian rupa.
 
Dasbo Street, Sabtu, 28/5/16
 
Marwan AM, حفظه الله تعالى ورعاه

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*