Oh Sungguh Benar-benar Tak Bisa Kubayangkan

Menyesal

Terus terang, saat menuturkan kisah pilu ini, air mataku deras berlinang. Beruntung bukan aku yang mengalaminya, bila musibah ini menderaku, oh sungguh benar-benar tak bisa kubayangkan. Maka apakah tidak patut aku bersyukur kepada yang memberi hidayah?

 

Sebagai sahabat dekat, kami berempat (saya, Pak Nanang, Mamiq Sucipto, dan Pak Liang (nama samaran)), sedari Sekolah Dasar (SD) sampai berumur 45-an tidak pernah berpisah, terutama setelah kami membentuk sebuah grup bernama “ummat”.

 

Baik suka maupun duka, pahit maupun manis, kami selalu bersama, saat SD, SMP, dan SMA tak pernah lekang, kecuali saat memasuki bangku kuliah, kami harus berjauhan untuk sementara. Setelah masing-masing sudah berkeluarga dan bekerja, kami disatukan kembali oleh Allah Azza wa Jalla.

 

Qaddarallah kami memiliki keahlian yang berbeda dalam berbagai bidang, atas dasar ini, kami sepakat kembali berkumpul membentuk sebuah grup usaha, di mana grup ini tujuannya untuk membantu ummat yang tidak mampu. Berbekal jabatan di perusahaan masing-masing dan ditopang finansial yang sangat cukup, akhirnya kami sepakat membuat usaha copy center, jual ikan, investasi di travel, dan yang trakhir kami investasi di Indomaret dengan cara membeli franchise license-nya.

 

Menjalankan usaha-usaha ini, dalam perjalannya banyak dinamika hidup yang kami hadapi bersama, namun aneka dinamika itu justru membuat kami lebih kuat, lebih matang sekaligus membuka mata kalau umur kami ternyata sudah tidak muda lagi. Atas pertimbangan berbagai hal, kami memutuskan untuk ikut liqoan yang diadakan partai “S”, namun entah sebab apa kami bubar setelah berjalan hanya hitungan minggu.

 

Bingung harus ngaji ke mana, melalui perantara seorang teman, kami mengundang Ustadz Sofwan Hakim. Sayang, juga tidak berumur panjang, kami kembali bubar, sebab ternyata di antara kami ada yang sudah menjadi pengikut Jamaah Tabligh (JT), Tasauf, pun ada yang menjadi simpatisan partai. Yang lebih parah, di antara anggota kajian ada yang tidak sholat, puasa, dll.

 

Bersama mereka (sahabat dekat tadi), saya memutuskan ikut tahsin saja di bawah bimbingan Ustadz Rofiqin dan alhamdulillah berjalan sampai sekarang. Singkat cerita, kecuali sahabat kami yang bernama Pak Liang, ia kerap kami ajak kajian, tahsin, main, dan lain sebagainya, namun tidak pernah bergeming dan sepertinya beliau tidak senang dengan pemahaman yang kami yakini dan anut.

 

Entah sebab apa, sahabat yang tadinya segar bugar, sehat walafiat tanpa kurang sedikit apapun ini, mendadak dibabat penyakit kronis yang mematikan, bahkan boleh dikata, semua penyakit yang dialami orang kampung berebut menimpa dirinya. Benar-benar digasak komplikasi.

 

Berulang kali keluar masuk rumah sakit, termasuk rumah sakit berkelas, dirinya tidak sembuh-sembuh juga. Suatu ketika, beberapa saat sebelum pergi untuk selamanya, dia memanggilku, tampak di wajahnya segudang kelesuan, kepedihan dan kesedihan, serta penyesalan yang tiada bertepi. Sungguh ia benar-benar berada di puncak penderitaan dan penyesalan.

 

Satu per satu penyesalannya diutarakan kepadaku, dari mulai tidak pernah ikut kajian bersama kami, tidak ikut tahsin, tidak ikut kegiatan-kegiatan islami yang kami programkan, dan seabrek penyesalan lainnya, yang sudah tidak mampu ia lakukan kecuali dengan sembuh dari penyakitnya.

 

“Maafkan saya Yat… Saya menyesal tidak pernah bisa ikut apa yang side (Anda) programkan dan ajak, saya teramat menyesal, sungguh, semoga saya disembuhkan agar bisa ikut semua kegiatan-kegiatan yang telah diprogramkan di grup ummat,” lirihnya berurai air mata.

 

Di ujung tangisnya, ia berwasiat kalau dirinya benar-benar dijemput ajal, ia ingin dimandikan, disholati, dikafani, serta dimakamkan sesuai Sunnah, sesuai dengan apa yang selama ini sangat dijauhi dan benci.

 

Tak lama sebelum meregang nyawa, wasiatnya pun saya sampaikan kepada keluarganya, sayang, karena berlatar belakang kelompok “W”, mereka menolak mentah-mentah wasiat tersebut. Hasilnya, setelah meninggal, ia sama sekali tidak dimakamkan sesuai permintaannya, sebab kelompok ini kadung teramat benci dengan pemahaman agama kami. Terpaksa jenazah malang itu diurus orang-orang yang jauh dari Sunnah, bahkan orang-orang yang tidak pernah mengenal Islam sama sekali.

 

Selanjutnya, seabrek acara-acara non Sunnah pun dilakukan, semisal tahlilan, acara Sembilan 9 hari, 40 hari, hingga kuburnya dipermanen dengan cara diplester semen. Yang lebih menyedihkan, belum berlalu 4 bulan, istrinya sudah mengobral diri, berselfi lantas diupload di Facebook yang kemudian langsung direspon pria hidung belang.

 

Setelah didera berbagai penyakit kronis yang membuatnya tak bisa bergerak dari ranjang, tak sedikit orang mulai menyesali masa-masa kelam yang telah dilewati, lalu ingin bertaubat. Beruntung bila keinginan itu tercapai, bila tidak , akibatnya tentu fatal. Seperti yang dialami sahabat dekat saya ini, menolak diajak kembali ke Sunnah, hasilnya, mati membawa penyesalan.

 

Semoga kisah singkat ini dapat menginspirasi dan menyadarkan kita semua. Aamiiin…

 

Catatan:

 

Saya: Pak Yatmo (bukan nama asli), warga Labuhan Lombok

 

Dasbo Street, Selasa, 18/04/2016

Marwan AM, حفظه الله تعالى

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*