Membuat Allah Azza wa Jalla Malu

download (8)

Bagaimana perasaan Anda ketika melihat satu adegan, satu peristiwa di depan Anda,  “Saya tidak punya uang receh, pergi!!  Saya muak dan bosan melihat anda!,” sembur seseorang kepada peminta-minta. Lalu orang yang meminta-minta tersebut tertunduk pergi, menanggung malu (kalau dia tidak ‘bermuka tembok’). Kasihan, kan? Pasti

 

Namun jangan lupa, rasa kasihan Anda tidak perlu dibesar-besarkan, lalu mengatakan, “ Kejam dan sombong nian orang itu’’, sebab mungkin itu yang kesekian kali ia dimintai, sehingga ia benar-benar muak dan bosan, walau tentu tindakan tersebut tidaklah terpuji, karena memang itulah watak manusia, kurang sabar dan cepat bosan.

Kebiasaan menjulurkan tangan, meminta-minta sudah masif dan mewabah, layaknya tontonan yang sudah tayang sekian kali, bukan sesuatu yang mengejutkan. Maka melihat adegan pengemis dihardik, diusir, dicampakkan dan disembur  juga tentu bukan sesuatu yang ganjil. Dan tentu tidak adil pula jika sepenuhnya menyalahkan orang yang dimintai marah, sebab jika itu kita, bisa jadi untuk yang pertama, kedua dan ketiga kita mungkin masih bersabar, namun selanjutnya tidak ada jaminan kita akan terus bersabar jika dimintai tanpa kenal musim.

Selain karena faktor cinta terhadap dunia, mencarinya pun susah payah, maka tentu tidak mudah untuk memberikan harta cuma-cuma, juga karena itu hak dan miliknya, mau didermakan atau tidak, tidak ada yang memaksa. Belum lagi manusia kerap dihinggapi rasa sombong, congkak jika harta sudah ada digenggaman.

 

Malulah Sebelum Dibuat Malu

Di jaman yang bisa dikata krisis iman dan ekonomi ini, terjadinya hal semacam itu bukan sesuatu yang garib. Namun etikanya orang yang meminta sesuatu seharusnya lebih dulu malu sebelum dibuat malu. Meminta sesuatu, apapun itu, memang bukan aib. Sebagai makhluk sosial, manusia memang saling membutuhkan satu sama lain, tapi jika “meminta” menjadi kebiasaan akan berubah menjadi aib dan kelemahan, sudah begitu setiap orang akan bosan jika kerap dimintai.

Dan pastinya tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, memberi lebih baik daripada meminta, selain tentu menggunakan hasil keringat sendiri jauh lebih baik, lebih berkah daripada hasil keringat orang lain.

:اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ، وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ

Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allâh akan memberikan kecukupan kepadanya,” sabda Nabi Shallallu alaihi wassallam dalam riwata al-Bukhâri (no. 1427) dan Muslim no.1053 (124)

 

****

Buatlah Allah Azza wa Jalla Malu

Dengan 1001 alasan, sering seseorang malu minta kepada Allah, mereka lebih memilih manusia tempat mengiba daripada Allah, memilih manusia tempat mendongak daripada Yang Maha Kuasa, memilih manusia tempat menengadahkan tangan daripada Sang Pemberi. walhasil karena mintanya kepada manusia, maka ditimpa hardikan, diusir, dicampakkan dan disembur sesuatu yang tidak bisa dielakkan, dan harus siap-siap menanggung malu. Sebaliknya, meminta dan memohon kepada Allah justru membuatNya malu menolak daripada membuat hambaNya malu tidak diberi.

 

Mereka mungkin lupa, manusia semakin sering dimintai akan semakin jemu dan jenuh lalu geram dan menumpahkan amarahnya tanpa tedeng aling-aling, berdeda dengan Allah Azza wa Jalla, semakin sering dimintai, semakin sering pintuNya diketuk justru semakin senang, bahkan malu jika menolak permintaan hambaNya.

Juga kita tidak boleh lupa, kita ini milik Allah, pasti kebutuhan dan keinginan kita akan dipenuhi, dan yang pasti kita tidak akan pernah bisa berpaling dari apa yang dimiliki Allah secuil pun, kebutuhan kita ada digenggaman Allah, dan Allah tidak akan memberikannya kecuali dengan syarat: berusaha dan berdoa. Karenanya tak ada alasan untuk tidak memohon kebutuhan tersebut padaNya selain berusaha.

Apappun yang mereka minta selagi halal dan boleh, lalu berdoa penuh kejujuran, penuh kerendahan hati di hadapan Allah Azza wa Jalla, Allah Azza wa Jalla pasti malu menolaknya.

 

« إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا »

Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) Ta’ala adalah maha pemalu lagi maha mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa,” sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat Abu Dawud (no. 1488)

Allah Azza wa Jalla demikian mulia, begitu sayang terhadap hambaNya, sebuah keutamaan dan kelebihan untuk seoarang hamba yang mengetuk pintuNya denga doa.

 

Jumat, 15/01/2016

 

Marwan AM, حفظه الله تعالى

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*