Kisah Hidup Ummu Atikah rahimahallah Membuat Terharu

imagesWafatnya Ummu Atikah rahimahallah menyisakan cerita pilu yang bisa dipetik sebagai pelajaran. Selama 23 tahun ditinggal kedua orangtuanya ke Malaysia, Ummu Atikah hanya dapat bertemu satu hari satu malam dengan sang ayah, itu pun di ujung kematiannya dari sakit yang mengenaskan, adapun ibu, sama sekali tidak.

Ummu Atikah rahimahallah, istri kedua Abu Khadijah yang wafat tempo hari, Rabu (02/03), ternyata mengalami nasib yang tidak pernah diharapkan oleh seorang anak mana pun.  Ummu Atikah lahir di negeri jiran, Malaysia, sebagai putri pertama dari pasangan Rama & Rani (bukan nama asli). Dulu, setelah menikah, kedua pasangan ini langsung merantau ke Malaysia.

Namun setelah setahun bersama mereka, Ummu Atikah diboyong ke Indonesia, ia lalu dititip sama neneknya bernama Qomar. Nenek yang sehari-hari bekerja sebagai petani. Kenapa dibawa pulang lalu dititip? Kabarnya, agar di Malaysia keduanya fokus bekerja. Tentu jika Ummu Atikah ketika itu bisa bicara dan tahu bakal dititip begitu saja, pasti tidak akan pernah mau berpisah dengan kedua orangtuanya apapun alasan mereka.

Entah sebab apa, di Malaysia, mereka bukannya fokus mencari uang, tapi malah bercerai. Hingga ayahnya kawin lagi dengan wanita lain dan memiliki beberapa anak. Adapun ibunya, bagai ditelan bumi raib entah kemana, tidak ada kabar.

Ummu Atikah kecil terpaksa sejak berumur 12 bulan tidak lagi dapat menikmati kasih sayang kedua orangtuanya, terutama belaian seorang ibu, termasuk tidak lagi menenggak air susunya. Tiap kali ia merengek, oleh neneknya ia dikasih air tajin sebagai penggantinya.

Kendati demikian, Ummu Atikah tumbuh menjadi wanita yang normal di bawah asuhan nenek tersebut, namun hingga besar ia tidak tahu seperti apa orangtuanya, yang ia tahu sebagai ‘ibunya’ adalah nenek yang selalu mengurus dirinya siang malam itu.

Suatu hari ia disodorkan beberapa foto, oleh nenek yang merupakan ibu dari ayahnya itu, membisikinya bahwa gambar yang ada di foto-foto tersebut adalah ayah dan ibunya, sedang bekerja di Malaysia. Juga dikabarkan kepadanya bahwa keduanya sudah lama bercerai.

Apa yang bisa dilakukan seorang Ummu Atikah, selain sudah terbiasa tanpa keduanya, ia tidak berdaya memaksa ayahnya pulang karena sudah berkeluarga, juga tidak bisa meminta ibunya, karena tidak tahu di mana rimbanya.

Hilangnya kasih sayang orangtua pada dirinya, turut membuat Ummu Atikah sejak masih belia hilang selera makan. Kalau tidak diminta berkali-kali oleh neneknya, ia lebih memilih lapar, atau makan sekenanya.

Inilah awal Maag dan TBC perut menggerogoti tubuhnya, hingga sejak masih belia badannya sudah kurus. Ia sepertinya lebih membutuhkan kasih sayang daripada makan. Tapi itu tidak didapatkan, sehingga makan pun tidak diperhatikan

Selama 23 tahun ditinggal, selama itu kedua orangtuanya tidak pernah pulang, tidak ayah, tidak pula ibu, untuk melihatnya. Sesekali memang ia dikirimi uang oleh ayahnya, tapi tetap tidak bisa membuatnya tersenyum seperti senyumnya anak-anak yang dibelai kedua orangtuanya.

Setelah menikah dengan Abu Khadijah, ia mulai menemukan kebahagiaan, kasih sayang, tempat bersandar yang diharapkan oleh setiap wanita dewasa, namun penyakit Maag dan TBC perut tidak mau membiarkannya lama-lama berbahagia.

Setelah hampir 22 bulan bersama Abu Khadijah, kedua penyakit itu ‘ngamuk’, Ummu Atikah terkapar, selama 2 bulan sakitnya kian hari kian parah. Saking parahnya, makanan apapun ditolak keras oleh lambungnya, setiap kali makan muntah, keluar-masuk rumah sakit juga tidak menolong, walhasil dirinya seperti hanya tulang terbungkus kulit dan terbaring menunggu ‘waktu’.

Celakanya, meski kondisinya kian kritis, kasih sayang orangtua belum juga didapatkan. Saat mendengar anaknya sakit, bahkan dikabarkan parah, ayahnya bukannya langsung pulang, malah hanya mengirim biaya pengobatan, padahal bukan itu sejatinya yang dibutuhkan Ummu Atikah.

Setelah berkali-kali diminta lalu ‘dipaksa’ dan ‘diancam’ oleh adiknya, “Anakmu sudah parah, kalau kamu tidak segera pulang, mungkin kamu tidak akan melihatnya lagi selamanya, “ kata adiknya melalui pesawat telepon, baru ayah itu pulang melihat anaknya. Untung Ummu Atikah saat itu masih hidup, sebab baru satu hari satu malam bertemu muka dengannya, Ummu Atikah mengembuskan nafas terakhir.

“Wah nasib bi anakku, ayah salak (sudah takdirmu anakku, ayah yang salah) ” ucap ayah itu meneteskan air mata saat menemukan anaknya terkulai layu.

“Saya sangat menyesal, terlebih dalam waktu singkat itu kami sempat bercanda, tertawa renyah, bercengkrama, sebelum dirinya diambil,” ucap ayah itu menyesali dirinya setelah Ummu Atikah meninggal, ditirukan Abu Khadijah.

Adapun dengan ibunya, Ummu Atikah rahimahallah sama sekali belum pernah bertemu hingga akhir hayatnya, sebab entah di mana dia berada. “Bahkan sampai saat ini, sama sekali tidak ada kabarnya,” cerita Abu Khadijah.

Dan kini, Ummu Atikah meninggalkan seorang anak perempuan, berumur 11 bulan, sudah kehilangan dirinya, kehilangan kasih sayangnya, tapi semoga suaminya, Abu Khadijah bisa menjaga anak tersebut dengan baik, sehingga minimal tidak kehilangan kasih sayang sang ayah seperti yang dialami ibunya.

Semoga Ummu Atikah rahimahallah meraih kasih sayang dari Allah, sesuatu  yang tidak pernah ia dapatkan dari kedua orangtuanya, dan semoga beliau termasuk para penghuni surga karena kesabarannya. Aamiiin… (Sumber: Abu Khadijah)

Pelajaran:

  • Anak kerap menjadi ‘korban’ perceraian
  • Bukan cuma anak saja yang bisa durhaka kepada orangtua, tapi juga orangtua bisa ‘durhaka’ kepada anak.
  • Bagi seorang anak, kebutuhan terhadap kasih sayang orangtua melebihi kebutuhan terhadap makan dan minum
  • Tidak sedikit orangtua, melahirkan anak bak mengeluarkan kotoran, setelah lahir, ana tidak dijaga, tidak dididik dan dirawat, dibiarkan hidup mereka hanyut tanpa peduli seperti apa dan bagaimana, seperti kotoran yang dibuang begitu saja.

Menjelang sore, Sabtu, 12/03/2016

Marwan AM, حفظه الله تعالى

 

 

 

 

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*