Jantung Ibadah dan Ancaman Itu

download (6)

Bagi yang belum tahu, sekarang jangan lagi doa dianggap enteng, sebab ia ternyata ibadah yang paling agung, cara mendekatkan diri kepada Allah yang paling dahsyat, tepatnya ia jantung ibadah sekaligus permatanya.

Jaman ini, amat langka orang yang berdoa, kalau tidak genting, kalau tidak dalam kesusahan, kalau tidak sedang sangat butuh, ia tidak mau mengetuk pintu AllahA Azza wa Jalla dengan beragam alasan.

Di antara alasan paling kentara adalah: “merasa diri berlumur dosa” lalu seperti malu, ia berat menengadahkan tangan. “Ah! Allah tidak mungkin mendengarkan doa saya yang berlumur dosa ini”, katanya memilih tidak berdoa. Walhasil ia lebih percaya kepada kiyai untuk mendoakannya, ia merasa kiyai tersebut lebih pantas berdoa kepada Allah ketimbanng dirinya sendiri. Lalu kiyai tersebut ‘dibayar’ untuk mendoakannya.

Apakah alasan ini dibenarkan? Tentu tidak, walau boleh meminta untuk didoakan oleh orang lain semacam kiyai, alasan apapun mutlak tidak dibenarkan meninggalakan doa, justru karena banyak dosa ia wajib lekas meminta ampunan, lalu berdoa diberikan permintaannya yang lain.  Karena siapakah yang mengmapuni dosa selain Allah ?  Dan salah satu cara paling hebat meraih ampunan tersebut adalah, ya dengan berdoa, dan doa yang lain tentu akan mudah dikabulkan jika dosa telah diampuni.

Selain itu, ada juga yang tidak memiliki alasan, ia malah lebih kepada mengentengkan doa itu sendiri. Doa dianggapnya hanya sebagai bentuk ‘meminta’ saat butuh saja, tidak lebih, hingga ia tak mau berdoa kecuali jika sangat genting, sangat butuh, dan dalam keadaan kesulitan. Selain situasi itu, berat baginya mengangkat dan menengadahkan kedua tangan kepada Allah.

Menganggap doa tak lebih sebagai bentuk “meminta”, jelas keliru, sebab lebih dari itu, ia bukan sekadar “meminta” saat butuh semata namun juga  ibadah, bahkan jantung dan permatanya, Allah telah menegaskan hal ini melalui lisan Rasul-Nya shallallau ‘alaihi wassallam.

الدعاء هو العبادة

Doa adalah ibadah”, sebut Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam menamakan doa sebagai ibadah, lalu membaca firman Allah:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

 

Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina“. (QS; Ghafir:60)

Dalam menafsirkan ayat ini, mufassir agung, Ibnu Katsir menafsirkan kata “menyembah-Ku”, maksudnya adalah: “berdoa dan mentauhidkan-Ku”. Lalu Allah mengancam orang-orang yang  sombong, orang yang tidak mau berdoa kepadaNya dengan ancaman: “akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.

Selain itu, orang-orang yang telah mentadabburi Al-Qur’an, pasti menemukan bahwa Allah Azza wa Jalla telah banyak mengajak hambaNya untuk berdoa dan mengiba kepadaNya, sekaligus berjanji akan memenuhi permintaan-permintaan mereka.

 

Kamis, 14/01/2016

 

Marwan AM, حفظه الله تعالى

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*