Hadir Di acara ‘lesehan’ Yayasan At-Thohir, Disuguhkan Boronang, Ditentengkan Ikan Sulir dan Pelajaran Akhlak di Baliknya

IMG-20160905-WA0021
Tuan rumah Abu Adib cs bersama Ustadz Sofwan Hakim tengah bakar ikan Boronang
 
Yayasan /Sekolah TK-SD At-Thohir yang terletak di Perenangan, Pringgabaya, Lombok Timur atau di Labuhan Lombok, dalam acara lesehan, tuan rumahnya benar-benar hebat. Cukup susah membayangkan nikmatnya santap bersama ditemani ikan bakar boronang dkk. serta keramahan sesepuh acara Abu Adib dan para ajudannya sekelas Haji Rijal, Irwan ‘Bafin Zen’ dan Beni…heu heu heu..
 
Ahad (4/9) siang, perjalanan dari desa santri (Bagik Nyaka) menuju sekolah At-Thohir yang hanya berjarak sekitar 15 kilometer relative lancar. Kendati tidak berangkat bersama-sama, namun, sekitar 30 menit sudah tiba di lokasi. Untuk memasuki kawasan berudara panas pantai ini, tamu undangan tidak dipungut biaya, hehehe…
 
Untuk menuju Yayasan At-thohir sekitar 100 meter sebelum pertigaan arah Khayangan, kita harus belok kanan tepat di jalan menuju pantai duduk. Setelah itu, barulah meneruskan perjalanan sejauh 200 meter, jangan khawatir kendati ‘disambut’ kalbun yang berkeliaran, namun jalannya cukup bagus, lebar aspal mencapai kisaran 5 meter, jadi kendaraan roda empat tidak susah berpapasan. Mungkin waktu yang dibutuhkan hingga pelataran sekolah antara 2-3 menit.
 
Saat memasuki sekolah ini siang hari, maka panas pantai langsung menyapa kulit, sinar matahari menonjok-nojok, kendati begitu anginnya lembut menyapa. Hingga bila berada di bawah pohon yang rindang, terasa dibelai putri malu. Hadir dalam acara ‘lesehan’ ini orang-orang penting (setidaknya di mata istri haha). Sebut saja Ustadz Sofwan, Ustadz Junika, Ustadz Eka, Mamik Bahrain, Mamik Rus, mereka adalah penggawa Al-Wafa Foundation, yayasan penyalur bantuan.
 
Saat sudah berada di lokasi, sambil menunggu hidangan disajikan, di mana boronang dkk tengah dibakar, kelapa muda sedang dipetik, dan menu-menu lain sudah akan disiapkan, kami berbincang-bincang di bawah pohon mangga yang terletak di belakang masjid. Dalam obrolan tidak resmi tersebut, selain celetukan masa depan sekolah tersaji juga canda manis di antara para perindu istri kedua tersebut.
 
Ustadz Sofwan yang ikut membantu menyajikan menu, tidak lama memanggil. Ikan boronang kesukaan katanya sudah siap di-‘kelorang’. Acara lesehan pun berjalan sesuai selera, suka-suka, ceria-ceria, dan bahagia..hahai…sembari bercanda tawa renyah nan heboh…Maka segala rasa terasa kecuali rasa ‘poligami’ yang tidak andil, sebab semua yang hadir belum ada yang berani..hehe. Oya menyaksikan ikan boronang dipanggang, saya kepincut dan berniat saat balik nanti bisa membawakan ibunda dan ‘permaisuri’. Walhasil, saya mintol (minta tolong) untuk dipesankan.
 
Usai acara lesehan, istirahat sejenak, lalu bersama kepala suku Abu Adib kita ke pantai yang jaraknya tidak jauh. Ombak pantai duduk cukup besar, kendati demikian, saya, Ustadz Junika, Mamik Rus, Ustadz Eka, dan Mamik Bahrain, dengan gagah berani menantang ombak, menerjangnya penuh keceriaan, melepas segala rasa di air asin…cieee ehm..
 
Di akhir sesi, saat hendak pulang, ikan sulir yang dipesan telah tersedia. Oleh akh Irwan, masing-masing ditentengkan 1 kg. “Berapa harganya ?” tanya saya. “ Gak usah Ustadz,” katanya sembari menyunggingkan senyum ikhlas…ehm..
 
Acara lesehan bersama Abu Adib cs ini, tentu bukan yang pertama, sudah berulangkali dengan orang berbeda acara bahagia-suka-suka menikmati hidangan ini digelar. Tanpa maksud memuji berlebihan, keramahan, kedermawanan Abu Adib cs patut ditiru-teladani. Semoga Apa yang mereka berikan menjadi timbangan kebaikannya di akhirat kelak. Aamiin…
 
Senin, 5/9/16
 
[Marwan AM, حفظه الله تعالى وغفر الله لوالديه]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*