Fitnah Terbunuhnya Utsman bin Affan, Cukup Sejarahnya Sebagai Pelajaran

Di era kita hidup saat ini, bisa dikata semua orang sepakat, baik orang awam secara umum maupun orang pintar secara khusus, bahwa kita sedang menghadapi beragam fitnah besar yang tidak bisa dienteng-remehkan. Tiada harapan lain kecuali memohon kepada Allah agar mencukupkan kita dari keburukan yang ditimbulkan dan mengubahnya menjadi kebaikan.

Seperti kata pepatah, “ Sejarah selalu berulang”, demikian halnya fitnah, selalu kembali terjadi untuk memaksa kita agar memutar lagi memori akan sejarah-sejarah Islam berupa fitnah dan musibah yang pernah mendera kaum muslimin, untuk mengambil ibroh dan pelajaran di dalamnya. Orang yang kerap menengok sejarah dan mengambil pelajaran, pasti akan tahu cara menyikapi ketetapan-ketetapan Allah yang tidak akan pernah berubah dan berganti.

Di antara fitnah terdahsyat yang pernah dihadapi kaum muslimin, di mana, akibat buruk dan luka besar yang ditimbulkan hingga saat ini belum ada zaman yang mampu menambalnya bahkan sekian abad berlalu belum dijumpai penawarnya. Apalagi kalau bukan sejarah fitnah terbunuhnya sahabat mulia, adiluhung nan agung, amirul mukminin yang bergelar pemilik dua cahaya Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu.

Bayangkan, bagaimana fitnah besar tersebut bisa terjadi di zaman yang sangat dekat dengan petunjuk dan kebenaran, juga saat para sahabat radhiallahu ‘anhum masih hidup?!

Dan lihat, ketika fitnah menerjang, bagaimana pengorbanan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu demi para sahabat, beliau memang bukan sahabat sembarangan, ia merupakan menantu Nabi shallallahu ‘alaihi wasalla, dua dari putrinya dinikahi, belum lagi sejumlah hadist menyebutkan keutamaan dirinya, di antaranya termasuk salah satu penduduk surga?!

Fakta sejarah tidak bisa dielakkan, peristiwa-peristiwa yang menyeruak saat fitnah tersebut terjadi, menegaskan kepada kita bahwa tidak ada keraguan lagi, darinya kita harus mengambil pelajaran, dan hari ini kita amat sangat butuh untuk mengetahui dan mendalaminya agar tidak kembali menimpa kaum muslimin, di antara pelajaran-pelajaran tersebut adalah:

Pertama: Kapanpun, bila tampuk urusan berpindah tangan, di bawah kendali orang-orang dungu, para penyusup yang memeliki tujuan kotor, maka pasti bakal tak terkontrol oleh orang-orang yang lurus. Akibatnya akan menimbukan kegaduhan, hiruk pikuk dan kekacauan, semua itu tak akan berhenti hingga bagaikan api yang membakar tanaman hijau dan kering. Buntutnya, akan membawa ummat pada kondisi yang mengenaskan, di mana bahkan musuh sekalipun tak mampu melakukannya. Sebab, api fitnah yang berkobar dari dalam [oleh musuh dalam selimut] lebih dahsyat dan lebih berbahaya ketimbang muncul dari musuh di depan mata. Gerakan musuh dari luar pasti lebih mudah terdeteksi, hingga bisa menyatukan barisan untuk membendung bahayanya.

Sejarah menulis, bahwa orang-orang yang mengobarkan api fitnah, mengepung Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu di kediamannya, membunuh beliau dengan amat sangat kejam, mereka bagaikan kotoran terbuang yang terdiri dari kelompok manusia paling busuk, makhluk paling durjana.

Mereka, sebagaimana disebutkan Asy-Syaikh Muhibbuddin Al-Khatib dalam komentarnya di kitab Al-‘Awashim minal Qowashim, beliau mengatakan, “Yang turut dalam aksi pembunuhan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, memiliki dalih yang berbeda;

(1) ada yang ghulu (berlebihan) dalam agama, hingga perkara biasa dibesar-besarkan, mengingkarinya bagaikan mengingkari dosa besar;

(2) ada yang fanatik terhadap para sahabat senior keturunan quraisy;

(3) ada yang tidak terima batas-batasan syariat yang ditegakkan atas sebagaian mereka, lantas tergores di hati rasa kebencian dan dendam;

(4) ada yang memang dungu, kendunguannya lalu dimanfaatkan kelompok sesat Saba’iun, di mana membuat mereka diseret dalam fitnah, kerusakan dan akidah yang menyimpang;

(5) ada yang tak terima dan mengingkari kebaikan Utsman;

(6) ada yang pernah dihukum oleh Utsman secara syar’i karena melanggar aturan Islam lantas membuat mereka geram, yang seandainya hukuman tersebut mereka dapatkan lebih berat dari Umar mereka legowo, tunduk dan terima;

(7) dan ada pula yang ingin segera mendapat jabatan sebelum pantas menyandangnya karena merasa diri cerdas dan piawai padahal tak memiliki kebijaksanan dan jiwa kepemimpinan…dan seterusnya

Ucapan luar biasa dari seorang Muhibbuddin Al-Khatib ini, persis seolah-olah menyebutkan jenis-jenis manusia yang kerap menyulut api fitnah di setiap zaman, mereka bagai gerombolan yang memiliki visi dan misi yang berbeda, hanya saja untuk menggapai suatu ambisi mereka bersatu-padu menggulingkan seorang pemimpin, keluar dari jamaah kaum muslimin, sebab dengan itu mereka yakin mampu mencapai tujuannya.

Kalau kita perhatikan setiap penyulut fitnah, provokator dan para simpatisannya menggoyang pemerintah, waliul amri di zaman kita ini, persis kita akan menemukan tak keluar dari gampang mengkafirkan, keras lagi sesat. Hal ini umumnya dipicu oleh ketamakan individu, bahkan tidak peduli jika masayarakat harus dikorbankan, atau apapun yang merugikan Islam dan kaum muslimin demi menggulingkan setiap negara yang mengibarkan bendera Islam dan yang menjaga syariatnya. Atau tidak keluar dari orang-orang yang dungu, dan orang-orang durnaja yang termakan oleh syiar-syiar sesat.

Kedua: Fitnah yang mendera seorang sahabat terbaik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wsallam di zamannya, sama sekali tak membuat sahabat mulia tersebut terhindar karena sejumlah keutamaannya yang disebutkan secara mutawatir kepada kaum muslimin, celakanya bahkan komplotan penyulut fitnah lagi durjana mengklaim dengan membunuh Utsman radhiallahu ‘anhu terhitung membela Islam, memperbaiki keadaan ummat.

Tentang Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, “Banyak secara mutawatir menyebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan Utsman kabar gembira dengan surga, dijanjikan sebagai penghuninya, juga dikabarkan sebagai syahid.” Dalam sebuah hadist yang sahih, tentang Utsman, Nabi mengatakan,

ألا أستحي من رجل تستحي منه الملائكة؟

“Apakah saya tidak malu kepada pria yang malaikat saja malu kepadanya?”

Demikian juga Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu memiliki kisah-kisah yang masyhur, yang paling besar di antaranya adalah ketika beliau megeluarkan sebgaian besar hartanya untuk mempersiapkan Jaisyul Usrah (pasukan pada perang Tabuk), sampai-sampai dalam riwayat At-Tirmidzi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya:

ما ضر عثمان ما عمل بعد اليوم . مرتين

“Tidak memudharatkan (membahayakan) Utsman apa yang dia lakukan setelah hari ini.” Beliau mengatakannya dua kali,”

Jika para penyulut fitnah tak menyurutkan aksi biadabnya dengan sejumlah keutamaan tersebut untuk membunuhnya, apakah mungkin ada para pemimpin muslim, imam dan ulama selain Utsman bin Affan yang mampu membendung keburukan mereka?!

Ketiga: Di antara faktor-faktor terbesar yang menyebabkan fitnah terbunuhnya Utsman, (1) Membesar-besarkan perkara sepele, (2) Mengorek-orek kekurangan lalu menebarkannya, (3) Memutarbalikkan fakta, bahkan kebaikan dianggap pelanggaran untuk menggerakkan hawa nafsu buta.

Diceritakan oleh Salim bin Abdillah bin Umar, ayahnya pernah berkata, “ Mereka telah mencaci-maki Utsman dalam sejumlah perkara yang seandainya dilakukan oleh Umar mereka tak akan mencelanya.”

Dalam surat An-Nissa’, ayat 83, Allah Azza wa Jalla mengatakan,

إِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الأمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الأمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلا قَلِيلا

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri).

Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).

Bila fitnah sudah pecah, bagaikan api yang membumihanguskan tanaman hijau dan kering, dalam hitungan detik lenyaplah segala kebaikan yang diklaim para penyulutnya, jadilah keburukan sebelumnya menjadi angan-angan yang diharapkan bersama keamanan, keseimbangan dan keselamatan.

Kita memohon kepada Allah agar melindungi kita dari selaga fitnah, meridhai para sahabat nabiNya, dan mengumpulkan kita bersama mereka bersanding dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Aamiiin

Buah pena: Asy-Syaikh Muhammad Al-jazlani hafidzahullah

Sumber: http://www.alriyadh.com/1559200

Di ruang pagi, Studio Satu Radio Lombok, Senin, 2/1/2017

[Marwan AM, Lc حفظه الله تعالى وغفر الله له ولوالديه]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*