Bukan Cuma Dai yang Bisa Ingatkan Sholat, Penjual Bendera Merah Putih pun Bisa

IMG-20160816-WA0013
Penjual bendera merah putih

Bagi yang kerap menghadiri pengajian, diingatkan agar tidak meninggalkan shalat oleh dai merupakan hal biasa. Bagaimana jika diingatkan oleh penjual bendera, saya yakin amat jarang dijumpai, apalagi caranya mengingatkan terbilang unik.

 
Sekitar pukul 14.15, Senin (15/8) kemarin, bersama Ustadz. Junika dan Ustadz. Sofwan Hakim saya bertolak ke Mataram untuk membantu ummat. Di Cakra, kami ditunggu seorang wanita yang ingin menyerahkan uang Travel. Alhamdulillah melalui kami banyak jamaah yang ingin berangkat.
 
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, perjalanan ke Mataram kali ini rupanya cukup meletihkan. Celakanya bukan cuma badan yang lelah, namun juga hati mendongkol. Tapi untung bukan saya, selain sudah terlatih budaya antri juga alhamdulillah iman kesabaran masih setia menemani (ehm..).
 
Seperti diduga, jelang 17-an jalan raya pasti akan padat dengan lomba gerak jalan. Tepat, hajatan yang biasa dilakukan anak-anak sekolah tersebut tengah berlangsung di sekitar Janaperia, Lombok tengah. Tak pelak baik kendaraan roda dua maupun roda empat ‘dipaksa’ mengular sepanjang sekian kilo meter mengikuti irama mereka.
 
Kami menyaksikan sopir-sopir lain dan penumpangnya di seberang jalan lesu, kesal dan ngedumel. Sebab lomba gerak jalan tersebut semuanya mengambil rute di ruas jalan bagian kanan kami. Ustadz. Junika dan saya sendiri, sebaliknya menikmati pemandangan yang berwarna warni dari seragam unik peserta lomba tahunan tersebut, malah Ustadz. Junika sempat mengambil gambar mereka sebagai kenang-kenangan.
 
Usai melewati Janaperia, mobil yang ke arah Mataram berangsur lancar. Sebaliknya yang ke arah timur masih dipaksa harus sabar menunggu lomba usai. Kami bersyukur lomba yang sama tidak diselenggarakan di ruas jalan yang kami lalui. Tak lama, hape Ustadz. Junika berdering, orang yang tengah menanti mengabarkan dirinya sudah lama menunggu. Mendengar penjelasan Ustadz yang berasal dari Batu Belek, Lombok Timur itu, calon haji tersebut memaklumi.
 
Dengan kecepatan tinggi, tidak makan waktu lama kami tiba di bibir Mataram. Tepat di sebuah perempatan, traffic light dengan sigap menghentikan kami dengan warna merahnya. Di tengah menunggu, seorang pemuda lalu lalang di sekitar mobil yang juga antri menjajakkan bendera merah putih. Sepertinya pemuda tersebut memanfaatkan momen jelang 17-an.
 
Sebagai orang yang sudah biasa ke kota..ciee, menengok apa yang dia lakoni, tentu bukan sesuatu yang baru. Walhasil sedikit pun tak saya perhatikan, apalagi yang dijajakan bendera yang bisa didapatkan di mana saja. Namun, tiba-tiba, “Ustadz. Marwan, tolong panggil pedagang itu, di pecinya ada tulisan unik,” seru Ustadz. Junika yang juga sebagai sopir kami. Tanpa bertanya, pemuda yang tampak anak kuliahan itu saya panggil.
 
Saat dirinya mendekat. “Lihat, di topinya tertulis “JADWAL PADAT TETAP INGET SHOLAT”,” kata Ustadz. Junika sembari membeli benderanya dan menjepret topi yang dikenakan. “Wah unik ini, bisa menginsiprasi,” kata Ustadz yang enerjik itu lagi, senang.
 
Menurut saya juga ustadz. Sofwan yang duduk di sebelah, apa yang dilakukan pemuda tersebut, kendati sangat sederhana, layak diajungi jempol. Pasalnya cukup menginsiprasi, mengingatkan perkara besar yang kerap dilupakan,dientengkan, dan ringankan banyak orang hanya karena kesibukan dunia.
 
Untuk pemuda tersebut, dengan ajakan itu, selain menangguk untung dunia (buktinya kami membeli benderanya karena tulisan di topi tersebut), dirinya juga insyaAllah akan mendapat sesuatu yang jauh lebih berharga bagi akhiratnya.
 
Bukankah dalam riwayat muslim Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه
 
“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya”. Ini baru bila diikuti satu orang. Anda terinspirasi? Semoga!
 
Selasa 16 Agustus 2016
 
[Marwan AM, حفظه الله تعالى وغفر الله لوالديه]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*