Bila Ada Cabang Keimanan, Maka Juga Ada Cabang Kekufuran

WhatsApp Image 2016-09-03 at 14.42.32
Ustadz Abdurrahman Thoyyib tengah menyampaikan kajiannya di Masjid Sulaiman Fauzan Al-Fuzan Bagik Nyaka, Aikmel, Lombok Timur

Berbeda dengan kelompok yang lain, Ahlussunnah menyatakan iman meliputi:
• ikrar dalam hati,
• diucapkan dengan lisan
• dan diamalkan dengan anggota badan.
Artinya, selain definisi ini, dari kelompok apapun itu, dianggap batal.

Dengan definisi ini, Dosen STAI Ali Surabaya Ustadz Abdurrahman Thoyyib hafidzahullah dalam kajiannya di masjid Sulaiman Fauzan Al-Fauzan Ma’had Assunnah Bagik Nyaka, Sabtu (3/9) tadi malam, mengatakan, pendapat yang menyatakan iman adalah mengenal Allah dipastikan salah jalan. Iman bukan cuma soal mengenal Allah, kalau iman hanya mengenal Allah, maka iblis juga beriman, sebab iblis tahu Allah Azza wa Jalla.

Ustadz yang berasal dari Jawa Timur yang tiada henti mendakwahkan dan mengajak orang kepada tauhid ini juga mengatakan, pendapat yang menyatakan iman cukup diucapkan dengan lisan, juga dipastikan terpeleset. Iman bukan cuma soal diucapkan dengan lisan, kalau hanya diucapkan dengan lisan, maka orang munafik juga bakal menyandang gelar sebagai orang beriman.

Selain difinisi di atas, Ahlussunnah juga meyakini iman itu bercabang, memiliki tingkatan, berbeda dengan kelompok sesat yang meyakini sebaliknya, sebut saja Jahmiah misalnya, hingga menurutnya iman pelaku dosa besar sama dengan ulama. Maka pendapat ini jelas mentah di mata wahyu dan akal sehat.

Ustadz yang juga penulis di majalah AsySyariah ini mengaku, kelompok-kelompok non Ahlussunnah belakangan juga santer mendakwahkan tauhid, kendati begitu, tidak semua orang yang mengajak kepada tauhid benar.

“Sebab tauhid yang mereka inginkan berbeda dengan tauhid yang sebenarnya, oleh karena itu kita harus hati-hati, teliti, bukan ditelan mentah-mentah,” jelasnya sembari menambahkan bahwa tauhid yang sebenarnya adalah apa yang diserukan Ahulussunnah (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat radhillahu ‘anu dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka).

Menurut Ahlussunnah, lanjut Ustadz Abdurrahman, iman itu bercabang, dan cabang yang paling tinggi adalah kalimat “Laa ilaha illallah”, dan kalimat ini adalah kunci surga. Namun bukan berarti kita boleh mengentengkan cabang iman yang paling kecil, menjauhkan duri di jalan misalnya, menyunggingkan senyum saat berjumpa dengan saudara contoh lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi ‎wa sallam bersabda,‎

‎لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْق

“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, walaupun itu berupa cerahnya wajahmu ‎terhadap saudaramu.” (HR. Muslim).‎

Kata para ulama, jelas Ustadz Abdurrahman, bisa jadi perkara kecil bisa memenangkan ummat. Seperti menyegerakan berbuka puasa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka.” (Muttafaqun ‘alaih).
Jangan meremehkan sesuatu yang kecil padahal ia sesutau yang besar di mata Allah Azza wa Jalla.

Kalau ada cabang keimanan, kata Ustadz Abdurrahman, maka juga ada cabang kekufuran. Setiap ada cabang keimanan pasti ada cabang kekufuran, kendati tidak setiap cabang kekufuran tersebut dapat mencopot identitas kieslaman pelakuknya. Namun tentu, sekecil apapun cabang kekufuran, tidak boleh dienteng-remehkan, sebab timbulnya kerusakan-kerusakan juga dari hal-hal yang kecil.

“Lihat saja di jalan-jalan, tidak punya rasa malu, joget di jalan, laki-laki berbalut busana wanita, dan lain sebagainya, akibat mengentengkan dan meninggalkan cabang iman yang kecil. Semoga Allah memberikan kita dan mereka hidayah.”

Ustadz Abdurrahman menegaskan, “Laa ilaha illallah” berbeda dengan kalimat yang lain, bila diikrarkan ada konsekuensi yang wajib dipatuhi. “Sebab, kalau kalimat “Laa ilaha illallah” hanya diucapkan tanpa konsekuensi, maka setiap orang yang pernah mengucapkannya juga Islam, padahal menyebutnya untuk mencela, menyebutnya tanpa maksud meyakini, dan lain sebagainya.”

Terbukti, orang-orang dahulu, ketika kalimat tauhid terucap dan tertancap di hati.

• Dengan “Laa ilaha illallah” orang-orang jahilliah meninggalkan sesembahannya.
• Dengan “Laa ilaha illallah” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat radhiallahu ‘anhum jaya, dapat menaklukkan negara-negara kafir adidaya di zamannya.
• Dengan “Laa ilaha illah” mereka meninggalkan segala kesyirikan..apapun bentuknya
• Dengan “Laa ilaha illallah” mereka hanya menyembah kepada Allah…meninggalkan apapun bentuk penyembahan kepada selain Allah.

“Semua tradisi apa saja yang bertentangan dengan tauhid wajib kita tinggalkan, dan jangan sombong untuk menerima tauhid. Jangan berpegang teguh dengan adat istiadat yang bertentangan dengan tauhid (ini merupakan perangai jahiliah…), akhirnya berpaling dari agama Allah,” tukas Ustadz Abdurrahman

Diolah-sarikan dari: Kajian Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc hafidzahullah di Ma’had Assunnah, masjid Sulaiman Fauzan Al-Fauzan Bagiknya, Sabtu (3/9) tadi malam.

Ahad, 4 September 2016

[Marwan AM, حفظه الله تعالى وغفر الله لوالديه]

Silakan di-share, wa jazakumullahu khaeran

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*