Apakah Saya Akan Merayakan Maulid Nabi?

Bismillahirrahmaannirrahiim…

Pertama: Saya bakal menjadi yang pertama merayakan Maulid Nabi bila seandainya saya beruntung mendapatkan sebuah hadist dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  yang mengajak untuk menggelarnya pada hari ke 12 Rabiul Awal yang membedakannya dengan hari lain.

Kedua: Saya bakal menjadi yang pertama merayakan Maulid Nabi bila seandainya saya menemukan hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengajak untuk merayakannya, baik dengan isyarat atau dengan sindiran.

Ketiga: Saya bakal menjadi yang pertama merayakan Maulid Nabi bila seandainya saya meyakini bahwa ia telah disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, atau bahwa ia barangkali merupakan lentera kebaikan yang belum dianjurkan untuk merayakannya.

Keempat: Saya bakal menjadi yang pertama merayakan Maulid Nabi bila seandainya saya beruntung menemukan atsar dari Abu Bakar radhiallahu ‘anhu bahwa beliau pernah menggelar pesta di malam hari Maulid,

  • atau Umar radhiallahu ‘anhu pernah menjadikan hari itu sebagai hari berlibur dan bermain,
  • atau Utsman pada hari itu pernah mengajak untuk bersedekah dan berpuasa,
  • atau Ali radhiallahu ‘anhu pada hari itu pernah menggelar halaqah (majlis) untuk mempelajari siroh (sejarah).

Kelima: Saya bakal menjadi yang pertama merayakan Maulid Nabi bila seandainya saya mengetahui bahwa Bilal, atau Ibnu Abbas, atau siapapun dari para sahabat –radhiallahu ‘anhum- membedakan hari itu dengan sesuatu, baik bersifat agama atau bersifat duniawi.

Keenam: Saya bakal menjadi yang pertama merayakan Maulid Nabi bila seandainya saya beruntung menemukan atsar dari para tabi’in –baik dari kalangan Aalulbait (keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) atau yang lainnya- bahwa mereka pernah mengajak untuk membaca Madaih Nubuwah (syair-syair yang memuja Nabi) pada hari Maulid.

Ketujuh: Saya bakal menjadi yang pertama merayakan Maulid Nabi bila seandainya saya beruntung menemukan satu kalimat (ucapan) dari salah satu imam yang empat (Imam Malik, Abu Hanifah, Syafi’I dan Ahmad bin Hambal) bahwa mereka pernah mengajak untuk merayakan Maulid Nabi, atau kabar dari salah seorang di antara mereka, atau pernah dari mereka berkumpul bersama para pengikutnya lalu mendendangkan nasyid dan berjoget

Kedelapan: Saya bakal menjadi yang pertama merayakan Maulid Nabi bila seandainya saya meyakini bahwa imam-imam tersebut dan imam-imam sebelum mereka kaku dan keras, tidak mengetahui keangungan, kehormatan, dan tingginya kedudukan Nabi mereka.

Kesembilan: Saya bakal menjadi yang pertama merayakan Maulid Nabi bila seandainya saya meyakini bahwa ummat tidak tahu cara mengutarakan cintanya kepada Nabi mereka lebih dari 300 tahun sebelum Maulid Nabi diadakan, di mana selama itu belum pernah ada maulid dirayakan walau hanya sekali.

Kesepuluh: Saya bakal menjadi yang pertama merayakan Maulid Nabi bila seandainya saya meyakini bahwa jalan yang paling lurus adalah mengikuti bid’ah orang-orang masa kini, bukan mengikuti Sunnah para salafussholeh ( orang-orang terdahulu yang saleh).

و الحمد لله رب العالمين و صلى الله على عبده ورسوله وخليله نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

—————————————————-

Buah pena: Prof. Dr. Syaikh Saleh bin Abdul Aziz Assindy: Guru Besar di Masjid Nabawi- Direktur Utama Jam’iah Aqidah– dan Guru Besar di bidang Aqidah, Universitas Islam Madinah.

Sumber: http://www.salehs.net/mk28.htm

Di ruang pagi, Kamis, 08/12/16

[Marwan AM, Lc حفظه الله تعالى وغفر الله لوالديه]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*