Antara Ibadah dan Akhlak Ada 2 Tipe Manusia

NnzhlzDM
Gedung Ma’had Assunnah Bagik Nyaka, Aikmel, Lombok Timur

Ibadah dan akhlak, belakangan menjadi minyak dan air, tak menyatu. Walhasil, banyak dijumpai ketika berada di masjid seseorang benar-benar saleh, setelah keluar berubah menjadi manusia yang berbeda.

Saat ini ada prinsip, “Terserah saya mau berbuat apa, yang penting ibadah jalan, agama itu di masjid”. Bila dinilai dari kacamata agama, jelas prinsip ini keliru. Kenapa? Islam adalah agama yang ajarannya bertalian satu sama lain. Bila yang satu dijalankan yang lain tidak, ibarat berjalan dengan satu kaki, akan timpang.

Terbukti, tak sedikit yang membuat kita tertipu, berulangkali kita melihat orang rajin beribadah, sholatnya nomor satu, puasanya tingkat tinggi, hafalannya tak tertandingi, namun tiba-tiba semua orang dibuat terkejut dengan perangainya yang jauh dari Islam. Anak dan istrinya menjadi bulan-bulanan, ucapannya tak terkontrol, wajahnya bak mayat, kaki-tangannya sedikit-dikit terayun kasar, tetangganya tak pernah nyaman, dan lain sebagainya.

Antara ibadah dan akhlak ada 2 tipe manusia:

Pertama: ahli ibadah, namun buruk perangai

Tipe ini, ibadahnya terdepan, sholatnya khusuk, puasa wajib dan sunnatnya tiada putus, mulutnya selalu basah dengan zikir, namun perangainya bikin nek. Ibadah, termasuk sholat tak mencegahnya dari perbuatan keji, nista dan cabul, padahal Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45).

Tetangganya tidak pernah nyaman, hingga hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun berlaku pada dirinya.

وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ . قِيْلَ: وَ مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِيْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Demi Allah, tidak beriman, tidak beriman, tidak beriman. Ada yang bertanya: ‘Siapa itu wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: ‘Orang yang tetangganya tidak aman dari bawa’iq-nya (kejahatannya)‘” [HR. Bukhari ].

Bayangkan, ada orang sengaja menjemur pakaian di lantai rumahnya padahal ia tahu airnya bakal menetes ke rumah orang lain, tetangganya pasti tertanggu, namun tetap dilakukan. “Lha, bukannya dia rajin beribadah, kok bisa?”

Seorang sahabat berkata:

يا رسول الله! إن فلانة تصلي الليل وتصوم النهار، وفي لسانها شيء تؤذي جيرانها. قال: لا خير فيها، هي في النار

Wahai Rasulullah, si Fulanah sering shalat malam dan puasa. Namun lisannya pernah menyakiti tetangganya. Rasulullah bersabda: ‘Tidak ada kebaikan padanya, ia di neraka’” [HR. Al Hakim].

Orang tipe ini juga, kelak akan menjadi orang yang bangkrut.

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ.

Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?” Para sahabat menjawab,”Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.” Tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka”.[HR: Muslim]

Tentu jangan disalahpahami, hal ini bukan berarti ibadahnya tidak berguna, dan harus dikurangi, sama sekali bukan, namun maksudnya adalah, selain ibadah terus ditingkatkan akhlak pun tak ketinggalan. Dengan kata lain, antara ibadah dan akhlak harus berjalan bergandengan.

Kedua: perangainya indah, namun lalai beribadah

Tipe serupa ini banyak dijumpai, kebaikannya kepada sesama disanjung-puja, selalu ada saat saudaranya kesulitan, tutur katanya terkontrol dan manis, tetangganya senang dan nyaman, tak ada cela di mata setiap orang, dirinya selalu disebut pahlawan kebaikan, perangainya begitu memukau. Dalam bergaul sopan, lembut, murah senyum, jujur, amanah. Namun prihal ibadah,  sholat, puasa, sedekah, dan zikirnya musiman.

Akibatnya, kendati baik terhadap manusia, tak urung membuatnya terancam firman Allah.

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ    الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,  (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” [QS: Al-Ma’un:4-5]

Sebaliknya, orang yang tidak memisahkan antara ibadah dan akhlak pada dirinya, merupakan sifat orang-orang yang beruntung dan baginya surga firdaus. Lihat  surat Al Mu’minun Ayat 1-11

[1]Sungguh beruntung orang-orang yang beriman,

[2] (yaitu) orang yang khusyu’ dalam shalatnya,

[3] dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna,

[4] dan orang yang menunaikan zakat

[5] dan orang yang memelihara kemaluannya

[6] Kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak terceIa.

[7] Tetapi barang siapa mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

[8] dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat  dan janjinya,

[9] serta orang yang memelihara shalatnya.

[10] Mereka itulah orang yang akan mewarisi,

[11] (yakni) yang akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.

Ibadah dan Akhlak seseorang akan mengungkapkan siapa dirinya, bila keduanya baik, maka akan dikenal demikian, jika sebaliknya maka akan ber-image buruk.

Ahad, 21 Agustus 2016

[Marwan AM, حفظه الله تعالى وغفر الله لوالديه]

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*