Abu Fadhil From Zero to Hero

Abu Fadhil salah satu putra Bagik Nyaka, Aikmel, Lombok Timur  yang terbilang sukses di usia muda. Dulu cuma ngelapak kini sudah jadi bos sebuah toko. Buah dari kesabaran dan kerja kerasnya baru saja dinikmati. Umroh bersama isteri tercinta yang sejak lama diimpikan telah tergapai.

Abu Fadhil yang memiliki nama asli Adi Iskandar ini merupakan  anak yang cerdas, juara umum saat di SMP dan SMA, bukti kecerdasannya. Anak berilian yang digadang-gadang bakal melesat dalam berkarier malah menjelma jadi bos.

Setelah mengalami ‘kegaringan’ selama kuliah di Mataram, ia terbang ke Jawa untuk belajar Bahasa Arab mengikuti hati nuraninya yang ingin menguasai Bahasa Nabi. Baginya, kuliah umum hanya akan menghabiskan waktu, energy dan money. Pemuda ganteng ini, memang, sejak kecil ia sudah akrab dengan hal-hal  yang ‘berbau’ agama.

Satu tahun menimba Bahasa Arab di Al-Irsyad, Salatiga, Tengaran, Semarang, ia lalu pindah ke Bukhari, Solo setelah menyabet predikat sebagai Siswa Teladan Berbahasa Arab pada jenjangnya, yakni ILB (I’dad Lughowy B).  Selain Bahasa Arab, di sana ia juga menekuni ilmu agama lainnya.

Tidak lama ‘luntang-lantung’ di Jawa, ia kembali ke tanah asalnya. Saya tidak tahu persis apa yang dia lakukan sejak pulang kampung,  namun setelah balik dari tanah rantau, saya menjumpainya sedang membuka lapak. Melihat apa yang dia lakukan, bukan saya saja yang terkejut, guru-guru yang dulu pernah mengajarnya sewaktu di SMP Aikmel ketika menyaksikannya, juga terkejut bukan buatan, seperti Pak Marwan, guru Bahasa inggrinya. Pasalnya, seperti diketahui ia anak yang cerdas, seharusnya melanjutkan Kuliah, mengejar karier, jadi dokter atau yang lainnya, menurut guru itu.

Lama ngelapak, berjualan dengan gerobak, barang-barang  semacam buku-buku Islami, minyak wangi, kaset-kaset, CD video/mp3 dan lain-lain dijajakan setiap ada kajian di halaman masjid-masjid. Pekerjaan ini ia tekuni dengan sabar dan tanpa gengsi sambil mengabdikan diri di Ma’had Asunnah dengan gaji Rp100 ribu.

Hingga, entah bagaimana, sepulang saya yang kedua dari tanah rantau, saya tidak lagi menjumpainya ngelapak, tapi sudah memiliki sebuah toko, dengan barang-barang yang lebih wah, tidak hanya buku, minyak wangi, CD cs, busana muslim/muslimah juga terpajang di tokonya. Pada bulan Ramadhan, kabarnya, keuntungan bersih yang diraih dari toko tersebut, mencapai Rp 40 an juta, bahkan lebih.

Dari tokonya, ia tidak hanya dapat membangun rumah megah, membeli tanah, mobil, motor, tapi juga sekarang menikmati cita-citanya yaitu ke tanah suci. Ia benar-benar memulai dari nol dan berhasil, dengan kata lain  Abu Fadhil benar-benar From Zero to Hero.

Dulu, saya dan dia,  memang memiliki cita-cita yang berbeda, kalau saya ingin lulus dan bisa belajar di Universitas Islam Madinah (dan itu alhamdulillah tercapai),  sebaliknya dia ingin berhasil di Lombok ( dan itu Alhamdulillah tercapai juga).

Hari ini, di bawa langit Bandara Internasonal Lombok, saya dan keluarga besar menanti kepulangannya dari tanah suci. Semoga kepulangannya lancar dan selamat, dan berjumpa dengan keluarga. Aamiin

 

Di Bandara Internasional Lombok, Selasa, 1/03/2016

Marwan AM, حفظه الله تعالى

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*