Al-Qur’an Sebagai Mukjizat dan Manhaj dalam 13 Poin Penting

WhatsApp-Image-20160531jpg
suasana kajian malam rabu bersama Ust. Riyad badr Bajrey

(dari kajian Ustadz. Riyadh bin Badar Bajrey di Ma’had Assunnah, masjid Sulaiman Fauzan Al- Fauzan Bagik Nyaka, Selasa (30/5) malam)

 
1. Di dalam Alqur’an terangkum manhaj, kurikukulum, di mana di situ ada laragan, perintah dan lain sebagainya.
 
2. Fungsi mukjizat adalah melemahkan orang-orang yang berani menentang agama, menekan manusia, sehingga tak ada jalan lain kecuali untuk menerimanya.
 
3. Kitab-kitab terdahulu bukan mukjizat, karena kitab-kitab terdahulu tidak menantang kaumnya untuk membuat tandingan kitab-kitab tersebut, ditentang dengan mukjizat lain sesuai keadaan mereka. Buktinya mereka juga mampu mengubah isi kitab-kitab mereka.
 
4. Berbeda dengan Alqur’an adalah manhaj di satu sisi, di sisi lain juga mukzizat, buktinya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menentang kaummnya untuk membuat tandingan dengannya, dan mereka sama sekali tidak mampu, padahal Arab terkenal dengan sastranya, terlebih diturunkan dengan Bahasa mereka. Inilah yang membuat kita (ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) istimewa dengan Alqur’an.
 
5. Contoh lain, ilmu sihir, mereka tahu betul tentang sihir, maka ketika Alqur’an datang mereka tahu ini bukan sihir, mereka tahu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bisa berbuat demikian…
 
6. Dukun, tukang-tukang sihir juga aneh, mereka sebenarnya tidak mampu membuat sesuatu jadi kenyataan, misal menciptakan uang sesungguhnya, cuma mereka mampu menghipnotis orang, menggunakan imajinasi… coba kalau tukang suhir jago bikin uang, maka mereka akan kaya-kaya, tapi buktinya mereka miskin-miskin, udah miskin syirik lagi…
 
7. Dikhayalkan bagi orang yang melihatnya seakan-akan benar, nyata…hingga Nabi Musa ‘alaihissalam bahkan konon sempat takut saat dilemparkan tambang lalu berubah jadi ular oleh para tukang sihir…
 
8. Nabi datang ke sebuah kaum yang memeiliki keindahan Bahasa yang super, lalu Alqur’an datang dengn Bahasa mereka sendiri….Melihat keajaibannya, mereka lalu mengakui ini tidak mungkin Bahasa manusia…mereka takjub dengan Alqur’an….
 
9. Orang Arab punya kebiasaan, orang yang paling jago bersyair dialah orang yang memiliki kehormatan, mereka biasa saling ledek dengan syair lalu yang hebat yang terhormat…. Namun dengan datangnya Alqur’an mereka tunduk mengakuinya…
 
10. Semisal Sahabat Unais radhiallahu ‘anhu sebelum masuk Islam yang dikenal jago syair mengakui betapa indah dan dahsyat Bahasa Alqur’an, hingga membutnya bersyahadat…
 
11. Alqur’an untuk semua orang, tidak terikat dengan zamakan (waktu dan tempat ) dan akan selalu menjadi mukjizat, bukan hanya untuk bangsa arab pada waktu itu bahkan samapai saat ini… berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya…
 
12. Para sahabat tidak menjadikan akal tolak ukur untuk beriman, tidak mengandalkan bukti-bukti yang mungkin masih jauh di akal, begitu wahyu turun, kalau pun belum ada buktinya mereka tetap beriman dengan Alqur’an, begitu seharusnya kita…(belakangan apa yang ada di dalam Alqur’an dan Sunnah kita ketahui semua terbukti benar).
 
13. Apa saja perintah Allah dan Rasulnya katakan, mereka langsung percaya dan beriman… artinya iman mereka tak berpatokan dengan akal, karena banyak tak sesuai akal terbatas manusia, semisal saat perang sedikitnya mereka bisa mengalahkan puluhan ribu musuh…Mereka bahkan mampu melakukan sesuatu yang akal mengatakannya mustahill… dan banyak contohnya.
 
(Afwan telat dikirim kesimpulan ini karena sesuatu dan lain hal..ehm…, juga afwan cuma ini yang dapat kami sarikan, sebab kajian beliau banyak berisi kisah-kisah terkait mukjizat yang sudah sering antum dengar, semisal kisah tongkat Nabi Musa ‘alaihissalam)… Semoga bermanfaat!
 
Rabu, 01/06/2016
 
Marwan AM, حفظه الله تعالى ورعاه

Sekali Naik Perahu 4 Pulau Terjelajahi Menjadi Kenyataan dan Pelajaran Tauhid Dibaliknya

 WhatsApp-Image-20160528.jpgzzz
“Ustadz, kabar gembira, kita (saya, antum, dan Ustadz. Sofwan) diundang ikut ke gili oleh Abu Adib cs, katanya kita akan mengunjungi empat gili sekaligus,” bisik Abu Suhail di kantor. “Benar, kapan?,” ucap saya girang. “Besok Jumat,”kata putra Phogading itu. Saya yang memang selalu mudah jatuh cinta pada alam yang indah, langsung menganggukan kepala. “Oke siap insyaAllah,” kata saya penuh semangat.
 
Esoknya, matahari menongolkan diri di ufuk timur memberi sinyal hari Jumat (27/5) telah dimulai, usai berkemas-kemas menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan, saya segera meluncur ke tempat pertemuan, yakni rumah Abu Adib, Labuhan Lombok.
 
Hati yang riang bahagia ini sudah tak sabar ingin pergi menjelajahi gili-gili yang indah di bagian timur Lombok itu, yakni gili Kondo, Kapal, Petangan, dan Bidara. Yang pertama kami kunjungi adalah Gili Kondo. Hanya sekitar 15 menit mengarungi lautan kami sudah sampai pada gili yang terletak di selat Alas yang memisahkan pulau Lombok dan Sumbawa tersebut.
 
Di gili ini kawan-kawan bermandi ria dan snorkling cukup lama sembari bakar-bakar ikan, saya sendiri tidak ikut berbasah-basah, saya ingin menyimpan energy untuk gili yang belum tersentuh oleh kaki saya. Gili Kondo pernah saya kunjungi sebelumnya, hingga tak begitu tertarik, juga karena terumbu karangnya kurang indah, hanya hamparan pasirnya yang putih dan lembut bagai bubuk yang ditabur ke lantai.
 
Usai sholat dan makan siang dengan menu ikan ekspor dan ayam bakar yang “dibrok”, kami lalu bersiap-siap menjelajahi tiga gili berikutnya. Mulanya nyaris rencana merapah tiga pulau tersebut tak kesampaian karena sesuatu dan lain hal. Namun saya keukeuh meminta ke Abu Adib harus menyambanginya, sebab bagi saya terutama, tak ada artinya piknik kali ini jika hanya di gili Kondo, gak ada yang bakal seru dan baru saya bawa pulang. Walhasil setelah berunding, didukung Haji Rijal, Irwan Bafin Zen Shaputra (hehe), Abu Adib yang memang baik (ciee) setuju.
 
Mengikuti rute yang diinginkan pemilik perahu, Gili Kapal tujuan pertama, saat mengarungi lautan menuju gili kecil yang kabarnya kerap membuat kapal tersandung hingga dinamakan gili kapal itu, saya melihat gradasi warna air laut semakin jauh semakin membiru tua yang menandakan kedalaman laut, perahu sesekali bergoyang dahsyat, lihat kiri kanan laut terhampar luas membiru, rasa takut sempat mendadak menyeruak, namun seketika tertepis melihat Abu Adib cs tersenyum happy dan tenang-tenang saja.
Pulau ini berada cukup jauh dari Kondo, juga sangat kecil hanya sebentuk gugusan berpasir putih, tak ada pohon apapun yang tumbuh, ia pun tampak bila air laut sedang surut. Tidak lama berlompat-lompat girang di sana dan karena ombak semakin keras, hal ini juga amat dirasakan Ustadz. Sofwan, katanya ia sempat merasa pusing, kami segera menuju gili di sebelahnya, Gili Petangan.
 
Dari Kapal, Petangan tidak begitu jauh. Dalam menuju gili ini biru tuanya air laut juga amat terasa yang menandakan kedalamannya. Namun begitu mendekat, air di sekitarnya amat jernih menampakkan pemandangan taman laut, di mana padang lamun di bawahnya melambai-lambai seakan menyambut kedatangan Marwan AM ehm…
 
Gili Petangan tidak seperti gili yang lain pada umumnya juga tidak berpantai, ia ibarat hutan dipenuhi bebagai jenis bakau yang akarnya tertanam di dasar laut. Kendati formasi tanaman-tanaman bakau itu benar-benar menggoda dan menyejukkan pandangan, kesan saat melintasi tengah pulau ini seakan sedang berada di hutan rawa, maka ngeri juga kalau membayangkan tiba-tiba ada ular anaconda dan atau buaya..hehe..
 
Saat perahu di tengah-tengah laut antara Gili Petagan dan Gili Bidara berhenti, kami disajikan pemandangan laut yang indah. Di sini saya mulai menceburkan diri snorkling menikmati terumbu karang yang tiada henti membuat saya mengatakan, “MasayaAllah amazing!”, takjub akan keindahannya.
 
Seketika itu juga kawan-kawan langsung terjun bebas dari perahu turut menikmati alam laut yang begitu memikat. Bahkan di sini, karena tak begitu dalam dan saking jernihnya, terumbu karangnya yang indah dapat dilihat dari perahu. Semua terumbu karang masih dalam kondisi prima nan manis, hebatnya ikan-ikan yang sangat banyak dan berwarna warni mengitarinya seolah-olah tidak menghiraukan saya, mungkin dianggap ikan juga hahaha…
 
“Ke sini Ustadz,” panggil Abu Adib. Ia ingin saya menyaksikan ikan-ikan yang menari-nari saat disodori nasi. Benar-benar mempesona.
 
Saya ingin berlama-lama bahkan hingga malam, namun kode dari Abu Adib untuk melanjutkan perjalan menuju Gili Bidara membuat saya harus naik ke perahu. Gili Bidara adalah gili terakhir yang kami kunjungi, saat kami semakin dekat, keindahannya begitu tampak dari atas perahu. Di sini juga kami mandi cukup lama, namun sayang terumbu karang gili ini mirip dengan Gili Kondo.
 
Karena tidak sempat mengelilinya, saya kurang tahu persis keindahan lain yang disimpan pulau yang kabarnya dijadikan ladang warga Lombok untuk menanam ketela dan hasilnya dapat menghidupkan puluhan orang ini. Yang saya lihat ada sebuah dermaga, namun kondisinya sudah tidak layak disebut dermaga, tapi dermangu….hehe..
 
Tidak terasa hampir seharian menjelajahi pulau-pulau indah di bagian timur Lombok ini, banyak kenangan yang kami dapat dan rasakan, di mana kenangan tersebut tidak akan Anda dapatkan di pom bensin atau warung bakso kecuali ke sana langsung haha…
 
Dengan bertemu muka dan menyaksikan langsung semua keindahan itu, keyakinan kami semakin kuat, bahwa alangkah naifnya orang-orang yang menyembah selain Allah, kenapa? Karena hanya Allah-lah yang mampu membuat keindahan itu sedemikian rupa.
 
Dasbo Street, Sabtu, 28/5/16
 
Marwan AM, حفظه الله تعالى ورعاه

Setidaknya Ada 6 Kriteria Amat Penting untuk Lihat Sebelum Memilih Guru

 WhatsApp-Image-2016050Syaikh, ustadz, guru, atau apapun sebutan dan istilahnya, mengambil peranan penting dalam menentukan arah pikiran dan metode beragama seseorang.
Inilah yang terlihat dalam perkataan para ulama salaf, semisal Ali bin Abi Thalib, Muhammad bin Sirin, Malik bin Anas, dan lainnya tentang memilih guru.
Misalkan Muhammad bin Sirin rahimahullah, beliau mengatakan,
إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم
“Ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah pada siapa kalian belajar agama kalian.” (HR: Muslim).
Lalu apa kriteria orang yang bisa dijadikan sebagai guru? Setidaknya ada 6 kriteria amat penting untuk lihat.
 
1. Guru yang Berakidah Benar
2. Guru yang Ahli Agama
3. Guru yang Bertakwa Kepada Allah
4. Belajar Kepada Guru yang Senior
5. Orator dan Fasih Bukan Tolak Ukur
6. Belajar Secara Langsung.
 
[Diringkas seringkas-ringkasnya dari Bulletin alHujjah yang diterbitkan Al-Hunfa’ Mataram, volume:63, ditulis oleh Ustadz. Jamaluddin, Lc. Hafidzahullah].
 
Satu Radio, Kamis, 26/5/2016
Marwan AM, حفظه الله تعالى ورعاه
 

[Edisi berbagi] Formula Meracik Santri Menjaga Kebersihan Ala Ponpes Nurul Bayan

 j
 Sehari semalam di Ponpes Nurul Bayan (PNB), menemani Santri Assunnah yang mengikuti lomba Hifzhil Qur’an Antar Pesantren Se-Indonesia, ada banyak pelajaran yang saya petik. Selain terkait cara memanfaatkan ustadz pengabdian sendiri, penerapan bahasa di kalangan santri yang sudah saya tulis, ada satu hal lagi yang menarik dari mereka ingin saya bagi, yakni kebersihan.
 
Jangan bayangkan PNB seperti Al-Irsyad Tengaran yang sejuk dan empuk, juga jangan bayangkan ia seperti Aik Nyambuk Loang Gali yang udaranya segar membelai, jangan pula bayangkan ia seperti Assunnah Bagik Nyaka yang suhunya selalu bersahabat! (cieee..ehm..).
 
Pertama kali tiba di sana, Sabtu (14/5) magrib, barangkali belum terbiasa, saya, Abu Fadhil dan cs yang lain mendadak merasakan hal yang sama, yakni berpeluh-keringat. Tentu bukan karena gemetaran takut sama “tuselak”, tapi cuaca di PNB benar-benar menguji suhunya. Berkali-kali Abu Fadhil mengungkapkan kegerahan yang terasa di burket. “Benar-benar Bayan panasnya,” canda SEO Al-Madinah itu, karena ia tahu Bayan memang dikenal panas. Lebih-lebih lokasi PNB bertetangga dekat dengan laut.
 
Saat kami sudah berada di dalam area pondok, tepatnya di dekat lapangan football santri, melihat sekeliling, kalau saja tidak ada bangunan di tanah seluas 7 setengah hektar yang kerpuk (gersang) itu, menurut saya, Anda pasti akan mengira tempat itu sebuah ladang atau kebun. Bagaimana tidak, berbagai jenis pohon semisal beringin dan bunga hampir ada di setiap sudut area. Tapi tentu karena ini pondok, pohon-pohon dan bunga tersebut tidak hidup layaknya di kebun beneran tak beraturan. Sepertinya, jauh sebelum tumbuh, mereka sudah ‘dididik’ hingga tidak liar.
 
Usai istirahat sejenak di teras RT (ruang tamu), Ustadz. Mashun yang saat itu bersama kami, mengajak untuk langsung menelusuri bagian-bagian pondok sembari menuju masjid. Mungkin faktor suhu yang selalu panas, masjid yang kami tuju ternyata tidak seperti masjid pada umumnya tertutup tembok di kanan-kiri, depan-belakangnya. Masjid yang saya taksir seluas 20X10 m itu terbuka layaknya berugak, hanya bagian depan yang bertembok.
 
Belakangan saat berbincang-bincang dengan TGH. Abdul Karim Abdul Ghafur hafidzahullah mudir PNB kami tahu, pohon-pohon yang tumbuh bebas di berbagai sudut dan tengah area pondok itu rupanya ditanam untuk memotong laju trik matahari yang menyengat. Terang saja, adanya berbagai pohon itu membuat area pondok menjadi rindang, hingga laju angin yang kerap membawa suhu panas pun tak seenaknya menampar kulit.
 
“Pohon-pohon itu sengaja kita tanam, agar kelak area ini akan rindang seperti area yang lain,” ujar Ustadz alumnus Universitas Islam Bagdad, tahun 1991 silam itu sambil menunjuk pohon yang belum lama ditanam pada area yang masih bebas ditrobos raja siang.
 
Anda mungkin menduga dan membayangkan, selain sampah organik yang kerap oleh orang dibuang sembarang tempat, ditambah dengan adanya berupa-rupa pohon yang setiap hari bahkan saat menjatuhkan daunnya, tentu akan menciptakan banyak sampah yang bakal berserakan setiap hari di semua area pondok. Tapi di PNB, saya jamin, dugaan dan bayangan Anda bakal meleset.
 
Hal ini yang membuat saya terheran-heran sedari pertama kali kaki saya menginjak bumi santri yang terletak di Telega Bagik, Anyar, Bayan, Lombok Utara itu, yang saya longo, di area pondok sejauh mata saya memandang, jangankan sampak organik semisal bekas bungkus snack, daun pun nyaris tak ada yang tergeletak seeanak perut menjadi sampah. Benar-benar bersih kendati tanah pondok itu “kerpukan”.
 
Esok harinya, Ahad (15/5) saat ngobrol renyah bersama tangan kanan TGH. Abdulkarim Ustadz. Rumi di bawah pohon yang rindang, duduk di atas potongan kayu yang sengaja dibuat sebagai kursi alami, karena curious (penasaran), saya sampai memotong obrolan lain untuk menanyakan bagaimana cara pondok meracik santri layaknya santri Nurul Bayan yang begitu sadar dan intens menjaga kebersihan.
 
Pasalnya sebelum subuh, lebih kurang sekitar pk 4:00 WITA, suara santri bersih-bersih menyapu halaman kamarnya sudah terdengar kres kres kres… belum lagi tentu sesuai aturan pondok, seluruh santri dan santriwati, setelah sholat subuh dan baca Al-Qur’an, usai memberesi kamar masing-masing, mereka turun serentak tanpa dikomando membersihkan segenap penjuru pondok.
 
“Ustadz, afwan, bagaiman sih cara pondok membuat santri di sini begitu hebat menjaga kebersihan?” tanya saya dengan nada lembut-serius.
 
Caranya, jelas beliau, seperti ghalibnya santri, awal-awal mereka dipaksa kemudian terbiasa hingga tanpa disuruh pun sudah sadar sendiri. Hal ini terjadi juga karena senior kerap menjadi contoh, menurunkan kebiasaannya, dengan melihat mereka, santri baru/ junior akhirnya latah. Begitu terus sejak dulu turun temurun dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. “Jadilah di mata santri, menjaga kebersihan bak adat sakral yang pantang untuk dilalaikan,” sebut Ustadz yang ramah berdialek Sunda-Jakarta itu.
 
Saya juga jamin, Anda tidak akan melihat bak, tong sampah di sana. “Di sini bila sampah sudah dipungut-sapu langsung dibakar,” ungkap Ustadz asal Bima yang mengaku pernah mengajar di Aik Nyambuk itu. Amazing, kan?
 
Demikian info sederhaha yang menjadi aluk-aluk (buah tangan) yang bisa saya bawa dari PNB saat berkunjung , Ahad (15/5) lalu. Kendati tentu Nurul Bayan bukan pondok yang sempurna, tapi suguhan semacam kebersihan yang dijaga layak untuk diapresiasi dan diambil sebagai dares yang bermanfaat. Dengan membagikannya, semoga info ini menular-berguna bagi siapa saja dan ponpes mana saja. Salam kebersihan ! ehm..
 
Kantor Mudir Ma’had Assunnah, Rabu, 25/5/16
 
Marwan AM, حفظه الله تعالى ورعاه

Dengan Kekuasaan Allah, Air Terjun ini Menghidupkan Ribuan Orang

WhatsApp-Image-20160524

Setelah puluhan tahun, akhirnya Ahad (15/5) bersama Abu Fadhil saya sempat berkunjung lagi ke air terjun Sendang Gile (SG). Ternyata di kawasan wisata yang merupakan kaki Gunung Rinjani ini, seiring bergantinya jaman, banyak hal sudah jauh berubah.

Keinginan keras untuk menyambangi air terjun yang terletak di Senaru, Bayan, Lombok Utara ini, berawal dari ajakan Abu Fadhil, kabarnya sudah berkepala 3 beliau belum pernah ke sana. Tekadnya kian bulat didorong rasa penasaran akan cerita inges-nya.

Saya sendiri juga amat rindu untuk kembali bersua dengannya, apalagi dulu saat pertama kali “memidanginya”, saya dibuat tergoda padahal belum tahu rasanya jatuh cinta pada alam yang indah seperti dirinya. Walhasil tekad kami pun bersambut. “Ayo mumpung ada kesempatan, kapan lagi,” seru saya.

Sebelum ke sana, kami sempat berpikir, jangan-jangan nanti di sana akan banyak pengunjung lain, di mana kita tidak akan bisa menghindari akhyar (akhwat liar) yang berpakaian terbuka bagian menariknya. Namun kami sadar, bukan itu tujuan kunjungan, tapi lebih untuk menikmati keindahan alam sekaligus mentadabburi-hayati apa dan siapa di balik keindahan tersebut (cieee ehm..).

Saat memasuki kawasan Senaru, seperti yang saya ungkapkan di atas, banyak hal telah berubah. Di sepanjang jalan, villa dan rumah-rumah semi permanen nan indah bak tengkong (jamur) di musim hujan, restoran-restoran berdiri di berbagai tempat strategis menggoda pengunjung dengan aroma sedap masakannya, kawasan Senaru nyaris mulai tertata indah dengan bunga-bunga berwarna manja, sesuatu yang belum pernah ada saat saya berkunjung kali pertama.

Tempat parkir roda empat dan roda dua pun kini mirip tempat parkir di mall-mall, berpaping bagus, di sekitarnya banyak restoran semi mewah dan beberapa balai informasi, padahal dulunya tempat itu seingat saya merupakan ladang semi kebun, penuh dengan semak-semak belukar. Juga dulu belum ada balai loket resmi, kini ada dua loket keluar masuk air terjun untuk menarik karcis.

Tak ayal, begitu tiba bahkan saya merasa seakan belum pernah ke sana, benar-benar jauh berbeda. Biar tidak terkesan ndeso di daerah sendiri, saya pun terpaksa membawa diri seakan sudah akrab dan berkali-kali berkunjung sambil sesekali curi pandang ke kanan dan ke kiri menengok sesuatu yang baru.

Mulanya kami tidak ingin turun bertemu muka langsung dengan air terjun, cukup melihat dari atas saja, namun rasa penasaran membuat Abu Fadhil keukeuh turun kendatinya katanya, Ustadz. Abdullah pernah bilang, “Turun di air terjun SG akan membuat antum menyesal (saat naik).”

“Bagaimana kita tahu rasanya kalau belum pernah dicoba,” tutur Abu Fdhil berkelakar menimpali ucapan Ustadz Abdullah sembari memantapkan langkahnya turun usai bayar karcis di loket masuk. Mau tahu berapa karcisnya? Datang aja ke SG..hehehe..

Ternyata memang, saat turun mengikuti irama anak tangga yang meliu-liuk kaya ular “sampi lada”, kami tidak merasakan apa-apa, cenderung malah menikmati sambil sesekali selfi bersama panorama pohon tropis yang indah.

Usai ngopi di dekat air yang jatuh dari ketinggian 30 meter itu dan melihat-lihat pemandangan alam sekitarnya, kami pun balik. Saat balik, benar juga kata ustadz. Abdullah pinggang terasa bukan di tempatnya, mur-mur kaki terasa longar, nafas turun-naik tak beraturan pun hahaha… terutama bagi yang jarang berolahraga. Sebab jalannya cukup jauh ke bawah kendati jalan setapak itu tak sepenuhnya menurun, artinya saat naik 180 derajat berbeda dibanding saat turun.

Tapi sempat berkunjung ke waterfall di antara yang terindah di Lombok dan paling banyak di datangi wisatawan lokal dan mancanegara membuat kami happy, hingga pengorbanan tak sia-sia ehm..

Melihat air terjun yang jatuh dan tampak sederhana, lalu menengok perubahan yang signifikan pada lingkungan dan masyarakat di sekitar, di mana membuat perekonomian mereka menanjak tajam akibat keberadaannya, usai merenung sejenak, saya pun mengatakan kepada Abu Fadhil,

“Dengan kekusaanNya, hanya dengan melalui air terjun yang sederhana itu Allah Azza wa Jalla menghidupkan ribuan orang.”

“Jangankan air terjun, batu pun mendatangkan manfaat bagi manusia,” ucap Abu Fadhil mengamini hasil tadabbur saya sembari mengikuti irama nafasnya di berugak dekat restoran tempat kami menghela nafas karena kelelahan…

Di halaman Ma’had Assunnah, Senin, 24/5/16

Marwan AM, حفظه الله تعالى ورعاه

Tolong Menolong dalam Kebaikan dalam 11 Poin Penting

 gg
[Dari kajian Ustadz. Abdullah Husni,Lc. Hafidzahullah di masjid Sulaiman Fuazan Al-Fauzan, kajian rutin Selasa (24/5/16) malam]
 
Sekapur Sirih…
 
Tidak bosan-bosan kita ingatkan untuk banyak bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, terutama nikmat Iman, islam dan berada di atas Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita harus terus bersyukur tengah berada di atas hidayah, karena kalau bukan karena Allah kita tidak akan beriman, kalau bukan karena Allah kita tidak akan beragama Islam, kalau bukan karena Allah kita tidak akan di atas Sunnah…
 
Bapak-bapak dan ibu-ibu, sebentar lagi kita akan kedatangan tamu spesial….
 
Kita akan kedatangan tamu spesial, yakni Ramadhan. Ibarat kita akan kedatangan tamu, pasti kita akan bersegera bersih-bersih rumah. Jangan sampai ketika tamu datang baru bersih-bersih, jelas ini kurang bagus. Saat Ramadhan datang, baru mulai “meripih” diri, kan berat yang demikian. Maka mari kita memperbaiki diri, bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla sehinnga saat Ramadhan tiba kita sudah siap, diri sudah bersih dll…
 
Tema: Tolong Menolong dalam Kebaikan
 
1. Kalau Allah menyuruh kita saling tolong menolong dalam kebaikan, artinya juga Allah melarang kita saling tolong menolong dalam keburukan.
 
2. Termasuk menolong dalam kebaikan, ketika kita menasihati orang untuk tidak meninggalkan sholat, untuk meninggalkan khamar, untuk meninggalkan bid’ah, untuk meninggalkan syririk dsb.
 
3. Kita juga jangan sebaliknya, saat diminta meninggalkan semua itu, kita malah marah, dilarang merokok ngamuk, dilarang berbuat bid’ah naik pitam, dilarang marah malah marah..dll
 
4. Dunia ini bagi orang muslim ibarat berada di penjara tidak seperti non muslim, ada batas-batas yang perlu dijaga. Karenanya kita diminta bersabar, dan sabar tidak ada batasnya hingga bahkan maut menjemput kita.
 
5. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kenapa? Karena tidak memanfaatkan waktu. Waktu merupakan modal untuk mencapai keinginan, ingin jadi pegawai butuh waktu, ingin jadi pengusaha butuh waktu, demikin ingin mendapatkan surga tentu juga butuh waktu.
 
6. Sekarang bagaimana kita menyikapi waktu, jika sepenuhnya waktu digunakan untuk meraih dunia, jadi milioner misalnya, tentu dia akan meraih apa yang dia inginkan. Sebaliknya, bila digunakan untuk meraih akhirat, surga, maka tentu Allah akan berikan.
 
7. Cukupkan diri dengan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sebab Nabi shallallahu adalah sauri teladan kita.
 
(لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا)
 
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu contoh teladan yang baik bagimu; ialah bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari Qiamat dan ia banyak ingat menyebut Allah.”(Q.S. Al-Ahzab 21)
 
8. Dakwah akan terus hidup dengan nasihat, kalau tidak ada nasihat maka agama ini akan punah.
 
9. Empat hal harus dipelajari; iman, amal sholeh, dakwah, dan sabar, semuanya harus berdasakan Al-Qur’an dan Hadist sesuai pemahaman salafussholeh.
10. Oran yang membekali saudarnya yang ikut berperang, maka seakan ia juga ikut berperang, juga barangsiapa yang menyantuni anak dan istrinya yang ditingglkan, maka seakan ia juga ikut perang. Intinya ini juga termasuk membantu dalam kebaikan.
 
11. Orang dulu rumah dijual untuk menuntut ilmu, menuli buku/kitab, kita malah sebaliknya, kitab kita jual untuk membeli rumah.
 
Ma’had Assunnah, Selasa, 24/5/16
 
Marwan AM, حفظه الله تعالى ورعاه

Antara Akidah & Akhlak dalam 31 Poin

 

12388222_945477802201647_1750938047_n

[ Dari kajian umum Ustadz. Abu Ihsan Al-Maidani di Ma’had Assunnah, Sabtu (21/5) malam]

Tema:Antara Akidah & dan Akhlak

1. Kalau ada yang merasa bosan belajar akhlak, maka belajarlah dari seorang imam yang mulia, yaitu Abdullah Ibnul Mubaraok rahimahullah, beliau berkata: “Aku belajar ahklaq/adab selama 30 tahun”.

2. Pelajaran ahklak adalah pelajaran yang berat, sebab orang yang belajar ahklaq tengah menyoroti diri sendiri, dengan belajar ahklaq seseorang bisa berubah. Semisalnya dulu suka berbuat bid’ah sekarang sudah mulai mengerjakan Sunnah.

3. Yang sulit diperbaiki adalah perangai, tingkah laku. Banyak orang yang tidak sejajar antara ahklak dengan akidahnya. Banyak juga penuntut ilmu yang tidak mencerminkan ilmunya, yang tidak mencerminkan akidahnya.

4. Misal lain, pedagang, mereka tahu hukum jual beli, namun apa yang terjadi? Banyak yang tidak memiliki akhlak sehingga mereka kerap curang.

5. Belajar ahklak tidak cukup hanya antara magrib-isya, mungkin kita hanya mengambil sedikit saja. Sebab belajar ahklak sangat luas, dari mulai adab terhadap istri, terhadap tetangga, terhadap guru, terhadap sehabat, terhadap apa saja..Semua terkait dengan akhlak.

6. Alhmdulillah ahli Sunnah sangat istimewa dengan tauhid yang mereka miliki, namun terkait akhlak, mereka kerap tersandung. Maka yang sulit berubah itu adalah ahklak seseorang.

7. Para sahabat orang yang paling bagus akhlaknya, kenapa? Karena langsung dididik oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam sendiri.
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Al-Qolam: 4).

8. Islam masuk ke Nusantara melalui ahklak, dulu aslinya nenek moyang kita animisme, hindu, budha. Kemudian datang kaum muslim dari luar, sebagian dari juru dakwah, dan sebagian lain para pedagang. Dengan melihat akhlak mereka, Islam kemudian diterima.

9. Cara yang paling efektif saat ini untuk berdakwah tentu dengan akhlak, agar Islam gampang diterima.
10. Ada orang yang bilang, “Saya tidak suka dengan orang ini karena di “wahabi”, tapi orangnya baik, suka mengunjungi orang sakit, baik terhadap tetangga”. Ini artinya mereka tidak akan menafikan ahklak yang indah.

11. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu juga ditolak dakwahnya, tapi mereka tidak menolak ahklak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang baik, hinnga bahkan dijuluki “al-Amiin,”. Berdakwah kepada siapa saja, termasuk kepada orangtua, pasangan dsb harus dengan akhlak.

12. Karena itu ada yang mengatakan, “ Berdakwah dengan amalan jauh lebih baik daripada dengan ucapan”. Artinya, kalau ucapan dai sebalik dari perbuatannya, orang akan sulit menerima dakwahnya.

13. Karenanya Syaikh Al-Bani rahimahullah mengatakan kepada muridnya, “ Kebenaran itu berat”. Maka harus disampaikan dengan akhlak. Dahulu juga kita saat belum mendapat hidayah, sulit kita menerima kebenaran, bahkan kita anggap orang yang membawanya kayak alien, namun akhlaknya memikat kita.

14. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
[QS. Al-Ahzaab: 21].…Ayat ini khabari tapi sekaligus perintah, sebab tidak akan yang sempurna ahklaknya kecuali Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Aisyah mengatakan, “Akhlak Nabi SAW adalah Alquran.” (HR Muslim). Kalau kita tadabburi Al-Quran kita akan temukan banyak ayat tentang akhlak, ayat pertama dalam surat pertama yakni ummul Qur’na. Apa pelajaran ahklaknya: ketika orang membaca alhmdulillah, bersihlah dirinya dari penyakit senang dipuji, sebab suka dipuji adalah penyembelihan. Bukankan senang dipuji adalah ahklak yang buruk?

15. Orang yang hafal Alqur’an kalau tidak diiringi dengan akhlak maka penghafal tersebut tercela. Nabi kaa khuluhul qur’an.

16. Untuk menguji iman kita, alatnya adalah akhlak. Untuk mengetahui kadar iman kita, maka lihat ahklaknya.
إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا

“Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya.” (HR. Bukhari)

17. an.Kalau mau melihat akhlak seseorang lihat dia bagaimana dia terhadap istrinya, disebutkan bahwa istri itu adalah tawanan. Biasanya istrinya kerao APES, abis manis sepah dibuang.

18. Kalau saja ada orang yang lebih pantas mendapat akhlak yang mulia, maka istri yang lebih pantas, kenapa bukan orangtua? Sebab anak lebih patut kepada kedua orangtuanya. Tanpa disuruhpun mereka sudah bebudi pekerti kepadanya. Berbeda dengan istri, sering dikasari oleh suami, apalagi kalau sudah beranak pinak, kecantikan sudah pudar, ketika sudah peot akhlak suami kerap berubah.

19. Orang suka memperlakukan pasangan hidupnya semena-mena, maka kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Mereka bukanlah orang yang bagus di antara kita”.

20. Latihan ahklak mulia dimulai dari rumah, bagaimana kita terhahap pasangan, terhadap istri kita, suami istri harus demikian. Orang yang paling dicintai, dan paling dekat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam, yang paling bagus akhlaknya.

21. Kita harus mampu memenejeri lisan kita, sebab lisan memang tidak bertulang, tapi lebih tajam daripada sembilu. Banyak orang yang gagal menjaga lisannya, semisal menggibah, menggunjing, dsb. Punya lisan itu nikmat, sumber kebahagiaan, dan salah satu nikmatnya adalah bisa bicara. Kalau orang tidak bisa bicara, akan menjadi bisu dan pasti tuli. Bila nikmat lisann hilang akan hilang juga nikmat yang lain.

22. Lisan kalau tidak bisa diatasi akan menjadi bumerang. Bahkan banyak orang masuk neraka karena lisannya, kalau gak bisa dikendalikan seseorang akan diseret oleh lisannya.

23. Akhlak yang baik bisa dilihat dari kelurusan lisan, akhlak ini ibarat periuk, akan terlihat isinya melalui lisan.

24. Kalau ingin menjadi orang yang berakhlak mulia, jadilah menejer lisan. Kalau sebailknya, dengan kebenaran ia diam, jadilah dia setan yang bisu, kalau buruk ia berbicara, jadilah ia setan yang berbicara.

25. Salah satu momen yang sebentar lagi kita jumpai adalah Ramadhan, kesempatan menguji, memperbaiki diri. Bulan ini di mana kita menguji akhlak kita. Puasa adalah perisai, perisai terhadap perbuatan yang buruk, dan ini kaitannya dengan akhlak.

26. Kita melatih lisan kita, melatih kebiasaan buruk kita untuk ditinggalkan di bulan Ramadhan. Di antaranya tidak berkata senonoh, buruk, menyakiti, keji, dan mungkar. Kalau ada yang mengejek kita, formulanya berpaling dari orang yang jahil, cukup ucapkan salam kepadanya. Apalagi di momen bulan Ramadhan. Sebab banyak orang yang memancing kita untuk emosi, marah. Apalagi sedang di jalan raya, kita kerap dipancing dengan makian , teriakan dll.

27. Kalau kita tampilkan akhlak yang baik sebagai dai, maka mereka akan tertarik, bila sebaliknya, maka kita seakan membuat mereka lari.

28. Nabi shallallhu ‘alaihi wasallam selain mengajak kepada Tauhid juga kepada berbudi pekerti, maka salah kalau ada yang mengatakan, “Yang penting tauhid terserah masalah akhlak mau amburadul. Padahal apa saja yang kita pelajari dalam agama selalu ada kaitannya dengan akhlak.

29. Antara Akidah dan akhlak sama penting, keduanya harus berjalan bersama-sama, sebab banyak orang masuk neraka akibat akhlak yang buruk.

30. Perkara yang paling banyak memasukan orang ke dalam neraka adalah lisan yang tak terjaga. Sebaliknya yang banyak memasukkan ke surga adalah takwallah dan akhlak yang mulia.

31. Akhlak tidak bisa dipelajari hanya semalam, butuh waktu untuk latihan, dan budi pekerti perlu diubah menjadi lebih baik. Menjadi penyayang, penyantun butuh waktu. Satu per satu kebiasaan kita diperbaiki. Kita mulai dari lisan, dan dari rumah.

Ma’had Assunnah, Sabtu, 21/5/2016
Marwan AM, حفظه الله تعالى ورعاه

[Terkait bahasa] Info Penting dari Ponpes Nurul Bayan yang Mungkin Bisa Diadopsi (bagian 2)

WhatsApp-Ima160516

 Selain untuk menemani 4 santri Ma’had Assunnah yang mengikuti lomba/ Musabaqah Hifzhil Qur’an Se-Inonesia, Kami (saya, Abu Fadhil, Ustadz. Mashun) juga ingin menimba ilmu bagaimana menerapkan Bahasa Arab di kalangan santri, sebab kami dengar pondok Nurul Bayan hebat soal yang satu ini.
 
Usai istirahat sejenak di ruang tamu (baca: teras ruang tamu), hadir kembali Ustadz. Idham menyapa kami setelah mengantar keempat santri di atas bergabung bersama para peserta yang lain di ruang khusus (walau akhirnya mereka memilih istirahat di berugak elen yang lebih enak). Basa basi sejenak, tanpa menunggu lebih lama, dengan lembut saya mulai mencecarnya dengan berbagai pertanyaan terkait berbagai hal mengenai pondok. Tanya jawab pun mengalir bak air terjun Sendang Gile, Senaru.
 
Perbincangan yang paling mendominasi adalah mengenai penerapan Bahasa Arab. Di pondok yang berdiri tahun 1991 ini, kata Ustadz Senior itu, kegiatan belajar mengajar 60% menggunakan metode Gontor (Ponpes Daarusslam Gontor, Ponorogo), demikian pula cara pengembangan Bahasa, sepenuhnya diadopsi dari Gontor. Kenapa banyak program ala gontor, sebut Idham, karena TGH. Abdul Karim Abdul Ghafur (mudir) sendiri adalah alumnus gontor. Adapun ilmu yang dipelajari sehari-hari oleh santri adalah ilmu salaf (tradisional) ala pondok Langitan dll.
 
Maka tak aneh saat berada di pondok seluas 7 setengah hektar ini, aroma pondok tradisional terasa begitu kental kendati santri-santrinya berseragam ala pegawai bank (menurut Abu Fadhil), guru-gurunya bahkan rata-rata berdasi, atau meminjam istilah Abu Fadhil, berpalente. “Karena mengadopsi ilmu salaf/tradisional, ilmu berpentas pun diajari, semisal cara ngeband, cuman sayang alatnya belum memadai,” kata Idham.
Ustadz. Idham sepertinya sadar siapa lawan bicaranya. “Tapi ambil yang baik-baik aja ustadz, dan buang yang kurang baik, karena pondok mana pun tidak ada yang perfect,” ucapnya menambahkan setengah malu sambil memain-mainkan ballpoin dan kertas register peserta yang ada di depannya.
 
Bahasa, lanjutnya menanggapi pertanyaan kami, di Nurul Bayan diterapkan secara bergantian, ada 2 bahasa yang sanagt ditekankan untuk dikuasai; Bahasa Arab dan Inggris. Pergantian jadwal berbahasa dilakukan setiap seminggu sekali, minggu pertama full ber-muhadatsah atau berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab, minggu berikutnya para santri ber-conversation atau berdialog dengan menggunakan bahasa Inggris. Demikin terus bergantian tanpa henti. Dan yang pasti saat aturan ini dijalankan, semua asatidz terlibat, bahkan mudir sekalipun.
 
Saat menjalankan aturan ini bukan berarti tanpa kendala, namun kendalanya tidak banyak, paling banter dilanggar menggunkan Bahasa Indonesia, bukan Bahasa daerah. Itu pun biasanya dilakukan oleh santri yang belum lama.
 
“Bagaimana mengatasi santri yang berbahasa sasak (terutama saat mereka berkumpul bersama teman sekampung), biasanya mereka berat untuk berbahasa Arab?” tanya Abu Fadhil yang ada di samping saya. “Alhamdulillah yang demikian tidak segnifikan di sini, kalau pun ada amat jarang terjadi, selain karena dikontrol penuh oleh UPS (ustadz pengabdian sendiri), juga kami berusaha membuat mereka tidak satu kamar alias disatukan dengan kawan-kawanya dari daerah/kampung lain,” ujar Idham.
 
“Lalu bagaimana santri baru?” tanya bos Almadinah itu lagi. “Ooo di sini, untuk murid baru, 6 bulan pertama kami ‘haramkan’ berbahasa daerah, harus berbahasa Indonesia sambil diisi dengan mufradat (kosa kata Bhs Arab/Inggris). Setelah 6 bulan baru ‘wajib’ berbahasa Arab/Inggris, kalau tidak bisa lebih baik diam,” jawabnya sambil senyum.
 
Mendengar penjelasan Ustadz. Idham, Abu Fadhil mengangguk-anggukan kepala. Idham menjelaskan, enaknya di Nurul Bayan, semua aturan mudah di jalankan karena terbantu oleh UPS. Kendati praktik Bahasa Arab/Inggrisnya persis ala Gontor, di mana kadang ‘dimix’ dengan Bahasa Indonesia, namun aturan tetap bejalan dengan rapi jali.
 
Banyak info yang kami dapatkan dari orang yang ramah itu, terkait kurikulum yang ditanya Ustadz. Mashun pun dijawab dengan tanpa lesu, bahkan cenderung kaya orang yang sedang buka lapak, bagaimana pedagang dengan senyum, ramah merayu pelanggan, kira-kira demikian beliau menjelaskan setiap kali menjawab pertanyaan kami. Namun karena takut memotong aktivitasnya yang lain dan takut beliau kecapekan, kami pun dengan terpaksa ‘menyetop’ diskusi.
 
Demikian sedkit info terkait penerapan Bahasa di Ponpes Nurul Bayan, mudah-mudahan ada dares yang dapat dipetik oleh siapa saja, terutama mungkin ma’had saya tercinta: Ma’had Assunnah Bagik Nyaka, Lombok.
 
Catatan:
 
Foto di bawah ini saya jepret di depan lapangan Ponpes Nurul Bayan.
 
Senin, 16/5/16
Marwan AM, حفظه الله تعالى ورعاه

[Laporan Kunsil] Info Penting dari Ponpes Nurul Bayan yang Mungkin Bisa Diadopsi (bagian 1)

WhatsApp-Image-20160516

Ada banyak hal yang dapat kami koleksi saat berkunjung ke Ponpes Nurul Bayan yang terletak di Telaga Bagek Anyar, Bayan, Lombok Utara sebagai sesuatu yang mungkin bisa diadopsi setiap pondok untuk mengembangkan pondoknya. Salah satunya, kehebatan mereka memanfaatkan ustadz pengabdian sendiri (UPS).

Di Nurul Bayan, nyaris seluruh ustadz yang terlibat/bersentuhan langsung dengan santri adalah UPS. Roda pondok seakan tak akan berjalan tanpa mereka. Setiap aturan yang dibuat oleh pondok untuk santri dipantau dan distir langsung, sedari pagi hingga malam. Hebatnya, di mata santri mereka begitu berwibawa, apapun yang mereka perintahkan, tak ada yang enggan, sebab status mereka di hadapan adik-adiknya adalah ustadz bukan musyrif.

Menurut Idham, ustadz yang dulu pernah berstatus sebagai UPS, banyak keutamaan memanfaatkan UPS. Yang paling mencolok adalah mereka orang yang paling tahu tentang pondok, paling tahu tentang santri, paling tahu aturan dan paling merasakan sikon, hingga untuk mengembangkan pondok dan untuk mengatasi setiap problem tidak sulit bagi mereka. Namun bukan berarti kendali sepenuhnya dipegang, mereka tetap di bawah beimbingan ustadz-ustadz senior, termasuk tuan guru/mudir.

Dulu, kisah orang Loteng itu, pondok pernah menggunakan jasa ustadz pengabdian dari luar (UPL), namun kerap jauh dari harapan, seringnya malah membuat ulah, banyak mengeluh, meminta gaji lebih, bahkan mempacari santriwati. Karena banyaknya problem dari mereka, akhirnya pondok berinisiatif untuk memanfaatkan UPS. Karena itu, setiap santri yang lulus harus mengabdi di pondok selama setahun, itu syarat bagi mereka sejak pertama masuk.

Banyak sekali kelebihan dan keistimewaan UPS dibanding UPL. Pertama, sebut ustadz yang ramah dan baik itu (saking baiknya, saya dan Abu Fadhil dipercaya menggunakan motornya untuk JJ…ehm..),

• UPS dipastikan tidak neko-neko masalah gaji (pondok bisa menghemat), malah di Nurul Bayan, saking kecilnya, tidak disebut gaji, tapi cuma sekedar “Ihsaniat/tali Asih”, hebatnya tidak pernah ada yang bertanya kalau telat diberikan. Sedang ustadz UPL, cenderung mempersoalkannya.

• Penurut, UPS selalu manut terhadap ustadz-ustadz seniornya. Walau sudah jadi ustadz, di mata ustadz yang dulu pernah mengajarnya ia tetap mengkondisikan diri seolah masih santri. Maka apapun yang diminta senior, enggan ditolak layaknya santri. Sedang UPL, karena merasa juga ustadz, cenderung gengsi untuk tunduk.

• UPS paling tahu tentang pondok, ukurannya, “lubang-lubang tikus pondok pun mereka kenal”, hingga mudah mendeteksi bila ada santri yang melanggar, dan tak gampang ‘ditipu’. Sedang UPL, sudah pasti tidak banyak tahu, maka tak aneh jika kerap ‘kecolongan’.

• Di mata santri, UPS lebih terhormat dibanding UPL, sebab UPS tahu betul cara mengatasi santri, dengan aturan-aturan yang pernah mereka jalani, kelembutan pasti akan menjadi hal utama pada mereka. Sedang UPL dipastikan akan meraba-raba, lalu ujung-ujungnya gamang dan naik pitam daripada mengatasi.

• Utamanya UPS yang masih single (belum nikah) tentu lebih punya pontesi lagi dibanding ynag sudah menikah. Tapi kalau pun sudah menikah dedikasinya untuk pondok jauh lebih ‘terlihat’ ikhlas dibanding UPL.

Takut kepanjangan, sengaja kami ringkas, mudah-mudahan [laporan kunsil] sederhana ini dapat menjadi info yang bermakna bagi siapa saja yang membacanya. Terutama, tentu info ini saya tujukan kepada pondok tercinta saya: Ma’had Assunnah Bagik Nyaka

Info ini, maaf, sama sekali bukan untuk menyudutkan UPL, tapi lebih kepada melihat keutaamaan UPS, hingga mungkin bisa menjadi pertibangan bagi pondok untuk menggunakan SDM (sumber daya manusia) mereka sendiri.

Senin, 16/5/2016
Marwan AM, حفظه الله تعالى ورعاه

4 Santri Ma’had Assunnah Ikuti Lomba Hifzhil Qur’an Se-Indonesia

WhatsApp-Image-201605

Seleksi lomba/Musabaqah Hifzhil Qur’an Antar Pesantren Se-Indonesia yang diadakan Syaikh Hamd Bin Khalid Ali Tsani (Qatar) bekerja sama dengan Daarunnajah Jakarta diikuti 4 santri Ma’had Assunnah, Bagik Nyaka, Aikmel Lombok Timur.

Untuk wilayah Lombok dan sekitarnya (Bali, NTB, NTT), Pondok Nurul Bayan yang terletak di Telaga Bagik, Anyar, Bayan, Lombok Utara menjadi tempat yang dipilih untuk digelar seleksi tersebut.

Mendapat undangan, Ma’had Assunnah langsung merespon dengan mengutus 5 santrinya, namun qaddarallah, satu di antaranya sakit, hingga dipastikan tidak bisa ikut. Keempat mereka adalah: Gufran Lailan Thowila, Roli Turnaidi, Muhammad Fajri, Ihya’ Ulumuddin.

Terkait berapa juz saja yang dilombakan? Idham, panitia lomba menyebutkan, ada 5 kriteria; 30, 20, 15, 10, dan 5 juz. Pemenang dari seleksi lomba ini akan dibawa ke Jakarta bulan Muharram mendatang untuk mengikuti lomba selanjutnya, dengan ketentuan juara satu dari masing-masing kriteria.

Hadiahnya? “Hadiah keseluruhan sekitar US$130 ribu/ Rp 1,8 M,” sebut Idham yang berasal dari Lombok tengah itu.

Nurul Bayan, 15/5/16

Marwan AM, حفظه الله تعالى ورعاه